Mengelola Media Konvensional Cetak Dengan Semangat Disruptive

0
1964

Besarnya tantangan bagi media konvensional untuk terus bertahan mendorong para pengelola untuk terus berinovasi demi menarik perhatian audiens dan pengiklan sekaligus. Banyak pemilik media konvensional yang akhirnya menyadari bahwa pasar sudah tidak bisa dikelola dengan cara-cara konvensional. Pemilik media-media konvensional sadar bahwa mereka harus gigih dalam menginjeksi cara berpikir disruptive ke dalam tim kerja mereka. Mari kita lihat beberapa bagian dari pengelolaan media konvensional yang memerlukan pola pikir disruptive:

Dimulai dari Pemimpin Yang Disruptive

Media konvensional membutuhkan pemimpin dan tim kerja yang siap melakukan perubahan besar, yang jika disesuaikan dengan situasi dan kondisi saat ini harus dilakukan dengan pola pikir disruptive. Tanpa mempertimbangkan dan mengeksekusi visi dan misi yang disruptive maka perusahaan media konvensional niscaya bubar.

Keengganan berubah adalah penyakit yang sering ditemui di kalangan pekerja atau pemimpin yang sudah terlalu lama menikmati kemapanan. Akibatnya, setiap usulan perubahan dilihat sebagai gangguan terhadap posisi yang mengancam aktualisasi diri. Tanpa disadari, ruang untuk berinovasi semakin lama semakin sempit hanya karena pikiran sudah dikuasai ketakutan untuk berubah. Perubahan menjadi momok dan sebisa mungkin dihindari. Kunci utama untuk siap melakukan perubahan adalah bersedia membuka diri terhadap dunia luar, belajar dari mereka yang berada di luar lingkaran kemapanan dan mendiskusikannya secara terbuka dengan rekan kerja internal. Pemimpin yang disruptive pasti berani mengambil keputusan dan tindakan yang berbeda total dari apa yang sudah biasa dilakukan.

Baca : The 1st Media Planners Forum: Menghidupkan Kembali Ekosistem Industri Media dan Agency di Era Digital

Layout

Banyak media konvensional yang masih saja bertahan dengan tampilan layout dan teknik penulisan yang masih terkesan kuno sehingga konsumen yang berhasil mereka raih atau yang masih bertahan mengonsumsi media konvensional adalah mereka yang relatif sudah berusia di atas 40 tahun. Dalam konteks product life cycle, media dengan konsumen usia di atas 40 tahun terancam punah jika tidak segera digantikan oleh usia di bawahnya. Bahkan berbagai studi menunjukkan bahwa kelompok usia 40 tahun juga sangat aktif menggunakan media digital yang menjauhkan mereka dari media konvensional.

Secara alamiah, jumlah audiens media lama khususnya cetak dan radio semakin lama semakin berkurang karena jumlah mereka yang keluar atau tidak lagi mengonsumsi media lama karena alasan demografi seperti usia dan mortality sangat tidak sebanding dengan jumlah audiens yang baru, bahkan banyak yang tidak berganti sama sekali dan hal ini jelas mengancam eksistensi media konvensional dalam waktu dekat.

Baca : Editorial: Perlunya Generasi Milenial Membaca Koran dan Mendengar Radio

Generasi milenial sebagai generasi masa depan sangat terbiasa dengan begitu banyak hal yang baru dan bagi mereka bertahan tanpa perubahan yang inovatif akan menciptakan persepsi ketertinggalan.

Untuk mengajak audiens berusia muda untuk bertahan sebagai audiens media konvensional, dibutuhkan pola pikir disruptive dalam mengelola layout, teks, headline, mutu analisis, gambar, susunan program, teknik komunikasi penyiar, dan segala hal yang berkaitan dengan konten. Harian Kompas cetak tampaknya mencoba melakukan hal tersebut pada edisi 28 Oktober 2017. Kita melihat harian Kompas, setidaknya pada edisi 28 Oktober 2017 meninggalkan kemapanannya dan melakukan inovasi layout yang luar biasa. Semangat disruptive ada disana.