Masa Depan Suram Perusahaan Media Advertising Indonesia

0
11233

Menyiasati Rendahnya Agency Fee dengan Praktik Media Commission

Melalui penelusuran Advertising Indonesia, masih ada ratusan perusahaan media advertising lokal yang masih beroperasi hingga saat ini. Skala usaha atau billing mereka sangat bervariasi mulai dari puluhan miliar hingga sekitar 100 miliar. Mereka mencoba bertahan dengan berbagai cara sekalipun iklim usaha yang mereka hadapi seringkali kurang bersahabat. Diantara mereka terdapat sejumlah nama yang cukup dikenal seperti CS Media, DM Pratama, Larisa, Avicom, Sentramedia, Endeecom, Activate, Megapro, Fortune, Artek N Partner. Mereka berusaha mempertahankan pelanggan-pelanggan mereka dengan segala usaha dari ancaman perusahaan asing yang terus menggurita.

Salah satu sumber pendapatan agensi media periklanan yang sangat klasik adalah agency fee. Namun saat ini, semua pengusaha bisnis media periklanan hampir tidak berdaya menghadapi persaingan agency fee yang sudah semakin liar sebab banyak perusahaan yang berani menurunkan agency fee hingga ke tingkat yang sangat rendah. Beberapa agensi media advertising ditengarai menerapkan agency fee hanya sebesar 0.5 persen. Lewat berbagai wawancara Advertising Indonesia dengan para pemilik biro iklan nasional, disebutkan bahwa praktik pengenaan agency fee yang sangat rendah justru awalnya dipelopori oleh pemain-pemain besar demi mengejar dan menaikkan billing yang ditetapkan oleh kantor regional atau pusat dengan tujuan akhir menaikkan ranking agency ke tingkat yang lebih tinggi secara global.

Berbagai pihak sering mempertanyakan, bagaimana agensi media periklanan bisa bertahan dengan agency fee serendah itu? Dugaan paling kuat adalah adanya support dari rumah-rumah media atau perusahaan media lewat perjanjian billing commitment yang membuka kemungkinan bagi agensi media periklanan mendapatkan media commission. Media commission atau komisi media inilah yang menjadi penopang operasi banyak agensi media periklanan saat ini dan jika billingnya semakin besar maka komisi yang diterima akan semakin besar. Kita bisa membayangkan betapa agensi dengan billing ratusan miliar akan mendapat komisi yang tidak sedikit lewat praktik ini, termasuk perusahaan media periklanan asing di atas. Tidak heran jika mereka berlomba-lomba ikut pitching dan berusaha merebut client perusahaan media periklanan lokal dengan berbagai cara dimana seringkali perusahaan lokal tidak berdaya menghadapinya.