Media Digital
Ancaman Dibalik Syarat Pembayaran Iklan Media Digital

0
2109

Pasar media digital semakin crowded

Jumlah media online atau media-media digital masih terus bertambah dan menurut NetCraft and Internet Live Stats, secara global saat ini tercatat sebanyak 863,105,652 websites dengan 3,185,996,155 pengguna internet atau setiap user menggunakan rata-rata 3.7 website (dengan catatan sekitar 75% dari jumlah website tersebut diduga dalam kondisi tidur). Di Indonesia sendiri menurut data Propelsteps, terdapat sekitar 266 ribu websites yang dikelompokkan ke dalam beragam kategori seperti situs berita umum, situs pendidikan, situs berita ekonomi, situs keagamaan, situs teknologi, dan lain-lain.

Di Indonesia, dari sekitar 259 juta total populasi, tercatat sekitar 88 juta pengguna internet yang aktif (infographic Techinasia, Januari 2016).  Dari sekitar 266 ribu website yang ada di Indonesia, beberapa top sites yang sangat populer yang dirangking oleh Alexa berdasarkan jumlah pengunjung diantaranya adalah Tribunnews.com (urutan 4), Detik.com (urutan 5) dan Kompas.com (urutan 12). Google.co.id, Google.com dan Youtube ada di urutan 1, 2 dan 3.

Bagaimana situs-situs media digital mempertahankan bisnis mereka?

Salah satu sumber utama pendapatan media termasuk media digital adalah penjualan space iklan. Dalam konteks media online atau digital, pengiklan membutuhkan data yang menggambarkan kualitas konsumsi audiens terhadap situs yang sedang mereka telaah seperti jumlah pengunjung, pageview, duration on site, dan bounce rate. Pengelola situs media digital wajib memaparkan data yang berasal dari web-traffic statistics dan analytics dihadapan pengiklan sebagai bukti aktifitas yang sah dari setiap situs. Ketersediaan data-data tersebut adalah faktor utama yang mendorong pengiklan melakukan kerjasama bisnis dengan suatu situs media digital termasuk pemasangan iklan display dan ragam bentuk iklan digital lainnya.

Persoalan pokok yang dihadapi oleh ribuan situs media digital saat ini adalah keputusan para pemilik brand yang tidak lagi berminat memasang iklan di media digital jika hanya berdasarkan jumlah pengunjung dan ad impression. Tuntutan mereka lebih tinggi lagi dari sekedar impression, yaitu tingkat konversi atas setiap iklan yang mereka pasang di berbagai situs media digital. Sebagai akibatnya, jumlah pengunjung dan potensi impression seringkali hanya dihargai murah atau dengan kata lain model penawaran berbasis CPM semakin tidak diminati. Cost Per Mile atau CPM atau CPT (Cost Per Thousand) sendiri adalah konsep pemasangan iklan yang terasosiasi dengan jumlah audiens yang melihat iklan. Konsep ini dikenal sangat mudah untuk digunakan dan secara bisnis menguntungkan setiap pemilik media. Harga atau transaksi cukup didasarkan atas jumlah pengunjung website yang melihat iklan (ad impression). Jika ad impression semakin tinggi maka peluang untuk memperoleh pendapatan iklan akan semakin tinggi (CPM x akumulasi setiap 1000 audience)

Masalah yang dihadapi ribuan pemilik media digital saat ini adalah tren dimana pengiklan lebih berkenan membayar iklan berdasarkan jumlah klik dan aksi (cost per click and cost per action), bukan CPM. Padahal, sangat tidak mudah untuk mendapatkan click dan action sebab kedua hal tersebut sangat dipengaruhi oleh minat audiens terhadap isi iklan, eksekusi materi iklan dan hubungan audiens dengan brand. Sangat tidak adil jika jumlah pengunjung yang terbukti melihat iklan atau ad impression tidak dianggap sebagai sesuatu yang bernilai. Bukankah ad impression termasuk salah satu tahap penting menuju brand awareness?

Ketika pengiklan terus bertahan dan tidak tertarik beriklan jika hanya berdasarkan CPM, para pengembang teknologi iklan dipaksa mengembangkan berbagai jenis iklan interaktif. New York Times dengan bantuan double click, salah satu program ad-programmatic yang dikelola oleh Google telah terbukti mampu menaikkan pendapatan iklan mereka dengan mengaplikasikan Native Ads di situs mereka. Hal ini sah-sah saja, namun sama sekali mengabaikan CPM atau abai membayar iklan berdasarkan jumlah pengunjung yang melihat iklan atau impression sangat tidak tepat. Nasib media-media digital jelas terancam jika hal ini terus dipertahankan oleh pengiklan.

 


– Advertising-Indonesia.id Kunjungi Keystone Marketing Company
– Kecelakaan Toyota Fortuner Setya NovantoCara Mematikan “Tombol Panik” Dari Kasus Setya Novanto
– Jika Media Cetak Ingin Bertahan, Tiada Solusi Lain Kecuali Berinovasi