Startup seperti TemanJalan memberi pesan bahwa di Indonesia, kuantitas komunitas mahasiswa masih bisa digarap secara bisnis, meskipun mungkin saja marginnya tidak terlalu besar karena sesuai dengan daya mahasiswa. Namun, Line sepertinya tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Kemampuan TemanJalan dalam mengembangkan ide yang relevan dengan situasi dan kondisi mahasiswa saat ini dianggap sebagai nilai paling tinggi ketimbang dari unsur bisnisnya.
Line sebagai penyedia layanan pesan terus membangun dan menjaga positioning-nya untuk kalangan anak muda. Anak muda di Indonesia khususnya mahasiswa mirip seperti sebagian besar konsumen di Indonesia yaitu “Price Sensitive” dimana perbedaan harga sangat berpengaruh terhadap komsumsi. Sama halnya seperti harga paket data yang dijual berbagai provider di Indonesia. Masalahnya dari tahun ke tahun hanya ada di perasaingan harga.
Tantangan berikutnya yang akan dihadapi oleh TemanJalan bersama Line di masa depan adalah meningkatkan kualitas. Kualitas tersebut bisa berangkat dari validitas data KTM, akurasi jemputan hingga apresiasi Line terhadap terhadap pengguna TemanJalan. Semakin baik kualitas TemanJalan, maka semakin banyak kuantitas mahasiswa yang menggunakannya. Hingga saat ini, TemanJalan telah beroperasi di 50 kampus dengan match perjalanan mencapai 100.000. Penggunanya juga diklaim telah mencapai 21.000.
![]()
– Toilet: Dimana Ide Lebih “Berkuasa” Dari Siapapun
– Beyonce Penyanyi Termahal 2017 Versi Forbes Kalahkan Adelle
– Media Digital Ancaman Dibalik Syarat Pembayaran Iklan Media Digital
– Pemerintah Indonesia Ancam Google Jika Tak Taat Aturan
– Advertising & Digital; Agar Kreatifitas Tidak Ditawar Murah oleh Client




























