
|
|
Pada prinsipnya, semua brand bisa mengkombinasikan strategi kombinasi penayangan di Commercial Break dengan In-Program Ads, namun untuk sampai ke tahap tersebut membutuhkan analisa yang lebih tajam terutama yang berhubungan dengan karakter target audience.
Jika melihat belanja iklan periode Q1 sampai Q3 di tahun 2017, seperti biasa iklan-iklan di Commercial Break didominasi oleh produk-produk FMCG. Namun dalam beberapa bulan terakhir, belanja iklan FMCG kemudian tenggelam dengan iklan Meikarta di kategori properti. Untuk pertamakalinya, belanja iklan properti Meikarta mencapai hingga gross 1,2 Triliun hanya dalam hitungan kurang dari 3 bulan. Tapi jika dilihat lebih mendalam, apa yang dilakukan oleh brand FMCG sepertinya berbeda dengan strategi yang dilakukan oleh iklan Meikarta. Sehingga tidak bisa dibandingkan secara “Apple to Apple” terutama dari sisi biaya belanja iklan yang tentunya berpengaruh terhadap TARPS maupun SOV.
Pada periode Mei-Oktober 2017, brand dari kategori FMCG tergolong cukup banyak yang menayangkan iklannya pada In-Program Ads. Penayangan iklan FMCG di Commercial sebagian dikombinasikan dengan iklan pada In-Program Ads. Namun jika melihat tabel survey di bawah, penayangan iklan pada Commercial Break dan In-Program Ads rata-rata dilakukan oleh produk FMCG untuk kategori Online Services, Communication, Coffee-Tea, Vitamins, Essences, Supplements, Instant Food dan Instant Noodle. Hal ini sangat masuk akal karena produk-produk tersebut sangat dekat dengan konsumen. Contohnya seperti produk Kopi dan Teh yang bisa ditemui di warung yang jaraknya hanya beberapa meter dari rumah pemirsa.





























