Astra dan Djarum Resmi “Meminang” Go-Jek

0
1375


ADVERTISING-INDONESIA.id – Perusahaan konglomerasi industri otomotif, PT Astra International Tbk (ASII) secara resmi menyuntikan dana segar kepada Go-Jek sebesar USD 150 juta atau setara Rp 2 Triliun.

Investasi itu disebut-sebut merupakan yang terbesar yang diberikan ke perusahaan startup transportasi berbasis digital.

Ada cerita tersendiri dibalik alasan kenapa korporasi lokal sebesar Astra tergugah mau menggelontorkan dananya untuk berinvestasi di perusahaan startup penyedia layanan transportasi online.

Prijono Sugiarto selaku Presiden Direktur Astra International mengungkapkan, sekitar tiga tahun lalu, Nadiem Makarim yang merupakan Chief Executive Officer (CEO) Go-Jek datang berkunjung pada Astra untuk menawarkan investasi. Namun, pada saat itu belum ada kesepakatan antara kedua belah pihak. Hanya menguraikan peluang potensi bisnis yang dapat diambil dengan melihat situasi dan kondisi Indonesia saat ini.

Sebatas membicarakan kondisi-kondisi terkini,” kisahnya di Hotel Fairmont, Jakarta, Senin (12/2).

Prijono pun melanjutkan, ketika membaca majalah Fortune edisi September 2017 lalu, dirinya kagum saat melihat Go-Jek masuk sebagai salah satu perusahaan yang akan mengubah dunia dengan inovasinya.

Sejak saat itu, kata Prijono, pihaknya langsung tidak ragu lagi dalam menggelontorkan dananya ke Go-Jek dalam jumlah yang lumayan besar yakni sekitar USD 150 juta. Di samping melihat prospek bisnis yang bagus, pihaknya juga memikirkan mengenai kolaborasi antara keduanya.

“Kenapa tidak kami bergabung ke Go-Jek. Kami berharap kolaborasi kami dengan Go-Jek akan memberi nilai tambah bagi bisnis Astra dan mengakselerasi inisiatif Astra di bidang digital,” ungkapnya.

Prijono menyadari, dalam berinvestasi di perusahaan Go-Jek, pengembalian hasilnya tidak dapat dirasakan dengan cepat. Namun, pihaknya optimistis investasi jangka panjang ini dapat memberikan nilai tambah bagi perusahaan.

Dia menjelaskan, pihaknya terlalu mematok keuntungan dengan memperhitungkan Internal Rate of Return (IRR) atau tingkat pengembalian investasi. Menengok dalam berinvestasi di bidang digital, IRR bukan satu-satunya indikator layak tidaknya berinvestasi.

“Lihat Twitter, mereka baru bisa untung akhir tahun lalu,” tandasnya.