
ADVERTISING-INDONESIA.id – Mengintip masa lalu industri advertising Indonesia perlu dilakukan untuk memahami berbagai jejak esensial industri yang hilang dan patut dimunculkan kembali.
Djoko Lelono, Joko HP, Inge Maskun, Hamdan Omar, Gandhi Suryoto, Leigh Reyes, Stephen Ford, Rick Ovadia, Randy Rinaldi adalah sebagian dari para direktur kreatif atau creative director handal yang menghiasi industri periklanan Indonesia di era 80 hingga 90an. Para creative director ini pasti mengingat dengan jelas bagaimana mereka bekerja berdampingan dengan para account director dan media director yang pada masa tersebut dikenal sebagai tiga serangkai pemikir konsep kampanye brand terintegrasi. Gandhi Suryoto di salah satu group facebook pernah berujar bahwa semua ada masanya. Kalimat ini menyiratkan bahwa setiap masa memiliki guratan sendiri, ada tokohnya sendiri dan gegap gempitanya sendiri. Sebagian dari para tokoh di atas hingga saat ini masih terus berkiprah dan menorehkan berbagai prestasi.
Saat ini industri periklanan Indonesia semakin kental dengan wajah digital. Dahsyatnya perkembangan media digital mendorong (jika bukan memaksa) semua praktisi periklanan belajar dan beradaptasi dengan dunia baru periklanan. Para media planner yang biasa berkutat dengan media konvensional dipaksa mengejar pengetahuan baru tentang teknik perencanaan media digital. Insan-insan kreatif yang sudah piawai dalam menciptakan iklan media konvensional, juga dipaksa beradaptasi dengan iklim kreatif digital yang sarat dengan istilah dan pengukuran yang benar-benar baru. Diskusi diantara komunitas periklanan berpindah dan berlangsung dalam suasana serba online. Ragam group diskusi di laman media sosial muncul dan aktif saling berbagi diantara anggotanya.




























