Kemang Avenue: Catatan Ringan Industri Periklanan Indonesia (2)

0
2205

Industri periklanan Indonesia sudah terbuka bagi pemodal asing dan ini menjadi tantangan serius yang harus dihadapi oleh perusahaan lokal dengan kerja keras. Pasti tidak mudah, sebab hal ini menuntut modal kerja, sistim, tools, dan kompetensi. Narga Habib menganggap bahwa kita harus siap berhadapan dengan perusahaan advertising global yang beroperasi di Indonesia. Termasuk menduduki atau merebut semakin banyak posisi-posisi strategis di sejumlah perusahaan advertising asing yang seolah menjadi jatah tenaga asing.

Saat ini di Indonesia terdapat sekitar 400 perusahaan advertising yang aktif dalam berbagai level atau billings, juga terbagi-bagi kedalam berbagai spesialisasi dan model bisnis. Sayangnya, semakin sulit menemukan perusahaan asli lokal, maksudnya asli Indonesia yang berada di jajaran top 20 Advertising Agency atau sebut saja Top 20 Integrated Communication Consultant. Gempuran pemain luar sudah sangat keras dan merontokkan banyak perusahaan besar lokal berbasis full service. Definisi baru top agency mungkin perlu disepakati, mungkin definisi itu adalah sebagai agency yang sukses dalam menumbuhkan penjualan brand pengiklan, berkali-kali.  Tentu memerlukan data dan keterbukaan pengiklan agar definisi ini bisa terimplementasi.

Berdiskusi, berargumentasi, menjajal berpikir rasional dalam forum regional atau global harus sering kita lakoni. Para tokoh periklanan Indonesia yakin bahwa para praktisi advertising Indonesia usia muda siap menghadapi tantangan ini. Tentu, kita mulai saja kembali dengan diskusi-diskusi ringan di café sekitaran Kemang, atau warung-warung kopi yang saat ini jumlahnya semakin banyak. Berbaur dengan rasa nasionalisme dan wawasan global yang tinggi. Mengejar berbagai ketinggalan (bagi yang merasa ketinggalan) termasuk menguasai konsep, dalil, instrumen teori, istilah, definisi, dan ragam temuan baru advertising global. Ingat bahwa jabatan struktural tidak akan berarti tanpa pemahaman fungsi yang kuat.  Kompetensi menjadi kata kunci.

 

Artikel terkait: Kemang Avenue (1)
Quo Vadis Industri Periklanan Indonesia
Beriklan Dengan Bijak
Wawancara Narga Habib