Potret Sederhana Industri Periklanan Indonesia Saat Ini

0
4754

ADVERTISING-INDONESIA.id – Jika seluruh nilai total transaksi media, produksi materi iklan dan pembayaran atas jasa seluruh professional yang bekerja di industri periklanan dihitung cermat (mengingat data tentang seluruh variabel ini sulit ditemukan), maka kemungkinan besar nilai industri periklanan Indonesia bisa mendekati angka 160 triliun. Belanja iklan di media konvensional TV dan cetak tahun 2016 menurut Nielsen sekitar 135 triliun gross. Jika ditambahkan dengan belanja iklan di media-media lain seperti radio, bioskop, media luar ruang, media baru digital, serta media-media statis lain yang kerap disebut sebagai below the line media, mungkin total belanja media akan menjadi sekitar 150 triliun. Jika biaya-biaya produksi, biaya pemasaran atau relationship cost, dan operasional dihitung lebih cermat mungkin total nilai rupiah yang dikelola industri periklanan Indonesia bisa mendekati angka 160 triliun, kurang lebih.

Mengapa angka ini begitu penting? Angka inilah yang bisa mengukur besarnya potensi jasa industri periklanan sebagai salah satu bagian dari industri kreatif terhadap PDB. Angka sebesar 160 triliun sudah cukup menandakan peran serta industri periklanan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sayangnya data lengkap tentang belanja iklan khususnya di media non konvensional masih sulit ditemukan.

Dalam hal sumbangan terhadap PDB, industri periklanan diakui menjadi salah satu sektor dalam industri kreatif yang nilainya terus bertumbuh, menyimpan harapan yang tinggi dan sangat potensial. Peranan industri periklanan termasuk para professionalnya memang perlu dilihat secara komprehensif.   Peran penting industri periklanan tidak berakhir pada penciptaan materi kreatif dan belanja media. Insan industri periklanan perlu menyadari posisi strategis industri ini dalam menciptakan dan mendorong konsumsi yang pasti berkaitan dengan jaringan distribusi dan kontinuitas produksi. Bak bola salju, industri periklanan menciptakan efek-efek komunikasi dan penjualan.

Namun demikian, peran penting industri periklanan Indonesia menyisakan bamyak pertanyaan yang perlu dijawab dan dituntaskan: apakah industri periklanan Indonesia sudah memiliki tatanan pengelolaan bisnis yang sehat? apakah professional industri periklanan Indonesia sudah memiliki tingkat kompetensi (pengetahuan, ketrampilan dan sikap) yang tinggi dan mampu bersaing hingga ke tingkat global? sejauh mana perusahaan periklanan asli Indonesia mampu bersaing dan menguasai pasar periklanan Indonesia saat ini? Berapa banyak perusahaan periklanan Indonesia yang sudah mengglobal atau setidaknya berkiprah di level regional?

Masih banyak hal mendasar yang masih perlu ditata atau direkayasa ulang, diantaranya adalah: tata kelola persaingan yang sehat antar sesama pelaku industri, hubungan industrial advertising agency dengan industri lain termasuk media dan pengguna jasa periklanan, penataan kompetensi atau standarisasi praktisi periklanan Indonesia, serta keterbukaan data dan informasi yang mendukung integritas industri.

Globalisasi, digitalisasi, dunia tanpa batas sudah tidak bisa dihindari. Namun memiliki hasrat menjadi tuan di negeri sendiri juga tidak perlu merasa risi.

 

Berita terkait:
– Daya Magis Radio dan Industri Daerah
– Dentsu Media Rebrand: Dentsu Aegis Meluncurkan Dentsu X Secara Global
– 4 Cara Penetapan Budget Advertising
– Wawancara Ekslusif Dengan Bimo Setiawan