Mengelola Media Konvensional Cetak Dengan Semangat Disruptive

0
1964


ADVERTISING-INDONESIA.id – Kedahsyatan media digital sudah tidak bisa dibendung. Pesan-pesan digital akan terus membanjiri halaman-halaman perangkat digital audiens. Media konvensional akan semakin terlihat kuno dan benar-benar bisa punah, kecuali berubah dan sukses beradaptasi dengan pasar.  Sekalipun masih banyak pemilik brand yang masih belum sepenuhnya percaya terhadap seluruh produk media digital namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa penggunaan media konvensional sebagai media iklan sudah sangat berkurang. Hal ini semakin tidak bisa dihindari karena media digital menawarkan sedemikian banyak aktifitas komunikasi brand yang terukur, kontekstual, fragmented, dan engaged.

Sebut saja display ads, rich media ads, contextual advertising, e-mail advertising, sponsored content, social media advertising, content marketing, website, kemudian mobile advertising and applications, e-CRM, point of sales integration, search marketing and optimization dan lain-lain. Keragaman ini akhirnya membuat penggunaan media digital semakin populer di kalangan pemilik brand, sementara posisi media-media konvensional semakin terhimpit dan para pemiliknya terus memutar otak dalam mencari sumber pendapatan baru serta melakukan penghematan demi penghematan demi bertahan.

Jika dibandingkan antara media konvensional dan media digital maka media konvensional secara teknik terlihat kuno dan kurang menarik sehingga  peluang untuk meraih pendapatan iklan semakin tipis. Sekalipun secara isi, banyak pihak mengakui bahwa sebagian media konvensional masih memiliki kekuatan editorial dan audiens tertentu masih memperhitungkan media konvensional sebagai salah satu sumber informasi dan berita buat mereka. Persoalannya adalah pengiklan tidak lagi antusias menempatkan iklan di media-media konvensional dengan berbagai alasan  seperti menurunnya kualitas konsumsi terhadap isi, minimnya pengukuran iklan dan terbatasnya jenis iklan yang dapat digunakan.

Beragam carapun sudah ditempuh oleh para pengelola media konvensional untuk bertahan termasuk misalnya menciptakan versi online dan mengajak audiens untuk membayar konten tertentu. Belakangan ini sejumlah media news online tampak berusaha menaikkan pendapatan dengan mengajak para pengguna media mereka untuk membayar konten tertentu yang mereka baca. Namun tampaknya belum terlalu berhasil karena audiens sudah terbiasa membaca berita lewat media online secara cuma-cuma. Konten berbayar sejauh ini cukup berhasil dilakukan oleh media-media yang menawarkan hasil-hasil penelitian, atau studi terbaru tentang beragam fenomena sosial, namun untuk media berita umum sepertinya hal ini belum menunjukkan hasil. Cara lain yang juga sudah dilakukan adalah menciptakan event-event komunitas yang relevan dengan isi yang mereka kelola.