
|
|
Wujud pemasaran tradisional juga berubah sangat radikal, bahkan disruption menjadi momok yang menggerogoti kepercayaan diri banyak pihak yang seolah melihat jurang menganga yang dalam dan terbentang di depan mata, siap menelan mereka yang tidak mampu beradaptasi dan melakukan disrupsi. Either disrupt yourself or be disrupted by someone else. Berfokus kepada customer dan memaksa mereka mengubah seluruh kebiasaan yang ada menjadi satu-satunya jalan yang akan membuat perusahaan mampu bertahan dan maju terus memenangkan pertarungan. Kita terperangah dengan sepak terjang Alibaba grup, raksasa China yang menjalankan misi membuat semuanya menjadi mudah dalam menjalankan bisnis dimanapun. Alibaba memanfaatkan kekuatan internet dengan optimal dalam menjangkau, meraih dan menghubungkan costumer dengan seluruh pengguna teknologi yang mereka ciptakan. Bisnis mereka adalah core commerce, cloud computing, digital media dan hiburan.
Banyak hal yang berubah di sekitar kita bahkan kita sering terlambat menggunakan aplikasi-aplikasi atau temuan baru yang mengajak kita berlari dan seringkali kita akhirnya ketinggalan. Faktor kebutuhan, usia, kemampuan beradaptasi dengan kompleksitas teknologi, adalah sebagian dari beragam faktor yang membuat banyak orang terpaksa menyerah dan akhirnya membiasakan diri untuk tertinggal. Sepertinya aneh, ketika kita membiarkan diri tertinggal di belakang teknologi. Masih banyak orang yang dengan sadar membiarkan dirinya menggunakan teknologi atau cara lama. Mereka beranggapan bahwa hidup perlu dinilai dengan ukuran-ukuran yang sesuai dengan kondisi kita. Untuk ukuran individu masih bisa ditoleransi, namun untuk level perusahaan sepertinya tidak bisa.
Peter Diamandis mengatakan bahwa akan ada suatu masa dimana kita memang harus melakukan disrupsi. Kita sudah cukup lama menjalani dan memasuki era digitization dimana semua orang termasuk perusahaan sudah harus memiliki digital sense sebab saat ini hal apapun dapat didigitalisasi. Kita juga secara perlahan dan pasti sudah memasuki era deception sebagai lanjutan dari era digitalisasi. Di era deception, pertumbuhan dan pembentukan eksponential kerap terjadi tanpa disadari. Banyak perusahaan yang sukses memanfaatkan teknologi digital juga sukses melewati dan bahkan menikmati era deception. Kita bisa mengamati hal tersebut salah satunya lewat Alibaba grup. Karena itulah, demi mengejar ketertinggalan kita, salah satu cara yang paling tepat untuk kita lakukan saat ini dan kita semua harus mengakuinya, mau tidak mau disrupsi harus dilakukan. Jika tidak, kita hanya akan melihat pertumbuhan eksponential dunia sekitar kita, bahkan terjadi tanpa kita sadari. Perusahaan yang bisa bertahan adalah perusahaan yang siap mengunakan teknologi atau penemuan baru yang mungkin akan menghancurkan hal-hal yang lama bahkan mencabut hal-hal tersebut dari akarnya. Para praktisi periklanan harus harus rela meninggalkan teknologi lama atau setidaknya anda harus menginjeksi diri dengan semangat disruption.
![]()
– Editorial Advertising: Berinovasi atau Mati
– Masa Depan Suram Perusahaan Media Advertising Indonesia
– Peran Advertising Agency untuk Bank dan Belanja Masyarakat: Natal 2017 Akan Menjadi Natal.




























