Advertising Tidak Akan Bubar!

0
1873


ADVERTISING-INDONESIA.id – Salah satu prediksi yang perlu dijawab dengan tegas atau dibantah keras adalah tulisan atau pandangan yang mengatakan bahwa ini adalah era dimana advertising sudah berakhir, sebuah pandangan absurd yang muncul karena salah memahami dan mendefinisikan masa depan. Sekalipun mungkin betul bahwa masa depan advertising persis seperti nasib sebuah botol kosong yang dilemparkan ke tengah lautan yang terombang-ambing terbawa gelombang dan sulit diterka kemana botol ini akan terbawa (Christopher Kenton, 2012). 

Lewat sebuah buku berjudul Beyond Advertising yang ditulis oleh Yoram (Jerry) Wind dan Catherine Findiesen Hays, kita diajak memahami situasi dan kondisi advertising di masa depan yang penuh dengan tantangan dan dinamika yang luar biasa. Alih-alih produktif dan bertahan, jika salah dalam memahami fakta dan situasi dunia brand, customer dan marketing saat ini dan masa depan, maka akan banyak praktisi advertising terancam kehilangan kepercayaan diri dan menganggap advertising menjadi bisnis yang sama sekali tidak menarik. Selanjutnya mereka akan tergilas zaman dan secara beramai-ramai mengubur ‘advertising’ dalam-dalam.

Terkait dengan masa depan, banyak pihak berpendapat bahwa masa depan itu sudah di depan mata bahkan seolah sudah bersama kita saat ini. Agak aneh, tapi itulah faktanya. Banyak orang tampak pasrah dan menganggap dirinya sudah ketinggalan dalam berbagai penemuan atau teknologi baru yang sebetulnya benar-benar belum ada atau baru perkiraan atau setidaknya bari di level percobaan. Banyak prediksi para ahli yang dipersepsikan sebagai sesuatu yang pasti akan nyata sehingga menciptakan ketidakpercayaan diri dan distorsi di kalangan para praktisi khususnya saat menyiapkan rencana bisnis dan kerja.

Sebagai salah satu contoh adalah tindakan para pemilik brand yang akhirnya menciptakan kerugian yang parah dan malapetaka bagi industri media cetak dimana para pemilik brand secara beramai-ramai meninggalkan media cetak dan beralih ke media digital dengan anggapan bahwa media cetak tidak relevan lagi digunakan sebagai salah satu touchpoint dalam mengomunikasikan brand. Hal ini terjadi karena semua teori tentang fungsi media cetak sebagai media komunikasi brand tidak lagi dipercaya dan diperparah dengan diamnya para ahli media komunikasi, mereka seolah tidak berkuasa mencegah terjadinya hal ini.

Padahal, ketika diprediksi bahwa media cetak akan kehilangan pengaruhnya, bukan berarti hal itu sudah 100% terjadi, sebab faktanya, masih banyak media cetak yang isi editorialnya masih relevan dan digunakan sebagai referensi oleh banyak pihak. Sementara di sisi lain banyak juga media digital atau online yang belum bisa berdiri sebagai pengganti media konvensional. Namun banyak prediksi yang sebetulnya masih perlu pembuktian, termasuk peranan media cetak yang diprediksikan, sekali lagi diprediksikan menurun, diterima sebagai fakta dan dgunakan sebagai acuan dalam pengambilan keputusan yang sangat pahit bagi dunia media cetak.