Wawancara Khusus Ariyanto Zainal (President Director MACS909)

1
797

BANGKIT MENUJU BIRO IDE & INOVASI

Ariyanto Zainal, President Director MACS909

ADVERTISING-INDONESIA.id – Persaingan antara biro iklan (advertising agency) nasional dan multinasional terjadi dalam eskalasi tinggi khususnya dalam 10 tahun terakhir. Saat ini semakin sedikit jumlah biro iklan nasional yang menangani full campaign brand-brand internasional bahkan nasional. Kenyataan inilah yang dialami oleh Ariyanto Zainal. Ia termasuk salah seorang pendiri biro iklan nasional MACS909 yang merasakan perjalanan panjang dunia periklanan di Indonesia. Bagaimana perspektif Ariyanto Zainal terhadap persaingan ini? Simak wawancara Ariyanto Zainal dengan tim Advertising Indonesia.

Q: Berapa lama MACS909 memegang brand multinasional?

A: Dari tahun 90’an sampai awal tahun 2000. Itu karena kami lincah, meski ada krisis berat tapi kami masih bisa survive. Tapi pada akhirnya, ada perubahan industri di seluruh dunia. Dimana industri yang tadinya media dan kreatif itu satu kesatuan kemudian menjadi terpisah. Hampir semua agency yang punya media services melakukan satu konsolidasi menjadi kekuatan besar atau membentuk holding seperti WPP. WPP melakukan akuisisi terhadap sejumlah agency dimana kemudian layanan media ditaruh ke dalam sebuah grup. Mereka akhirnya punya kemampuan yang luar biasa pada saat melakukan bargaining position (posisi tawar, red) mereka terhadap media.

“Dalam sebuah pertarungan itu ada peraturan. Ta-pi sekarang, misalnya biro iklan multinasional, untuk buat (project) TVC saja mereka berebut dengan biro iklan nasional”

Q: Kapan itu terjadi?

A: Kami terakhir menangani perencanaan dan pembelian media sekitar tahun 2004. Kenyataannya adalah ketika pemisahan antara media dengan kreatif itu terjadi, tiba-tiba agency tidak tahu bagaimana menghargai sebuah kreatifitas. Akhirnya hasil karya kreatif dihargai oleh client seharga man hours dan nilai intelektualnya menjadi seolah tidak ada. Padahal waktu dulu, semua nilai intelektual & man hours dibungkus dalam agency commission. Gimana caranya menghargai kreatifitas? Ketika kami berbicara tentang harga kreatif, patokannya hanya man hours. Padahal man hours itu hanya bagian dari “implementasi” pekerjaan kreatif. Gagasan besar itu justru yang mahal. Disitu persaingannya menjadi semakin melebar. Awalnya persaingan gagasan atau konsep. Saat ini sudah kuat-kuatan capital (modal, red); siapa yang bisa bayar human resource lebih mahal maka dia yang menang.

Q: Bagaimana menyetarakan kesempatan yang sama antara biro iklan nasional & multinasional?

A: Dalam sebuah pertarungan itu ada peraturan. Dengan peraturan itu maka pertarungan akan obyektif. Semua perlu platform. Misalnya zaman dulu, client’s billing dibawah 3 Milyar kami skip (lewatkan, red) saja. Tapi sekarang, misalnya biro iklan multinasional, untuk buat (project) TVC saja mereka berebut dengan biro iklan nasional. Billing yang besar, biro iklan multinasional mampu ikut. Begitupun dengan billing yang kecil, biro iklan multinasional juga ikutan. Itu semua karena tidak ada aturan.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here