Media Digital:
Kritikan Terhadap Model Cost Per Click

0
676


ADVERTISING-INDONESIA.id – Iklan banner atau display ad adalah salah satu sumber pemasukan utama media-media online sekalipun berbagai pihak khususnya para analis menilai bahwa iklan banner atau display advertising termasuk jenis iklan yang mahal atau overpriced, untargeted, kurang menarik dan terlalu didominasi oleh  perusahaan-perusahaan besar. Harga pemasangan iklan banner di media-media online ternama memang cenderung semakin mahal sehingga brand-brand tertentu yang ingin segera mendapatkan hasil beriklan namun memiliki budget kecil tidak tertarik menggunakannya.

Untuk mengatasi persoalan untargeted  tersebut, para ahli Adwords dan Google menggagas contextual targeting advertising sebagai jalan keluar. Lewat gagasan ini, para pemilik brand dapat memilih kata kunci yang dianggap sesuai dengan produk atau brand mereka dan mesin akan menempatkan iklan produk tersebut di website-website yang karakternya sesuai dengan kata kunci tersebut. Search targeting mampu menjadikan iklan untuk tampil lebih efektif sekaligus membuka peluang bagi brand yang segmented dan dengan budget kecil untuk berpromosi ke target-target yang sangat spesifik atau hanya kepada pelanggan potensial. Pendekatan contextual targeting membuat brand-brand besar berpeluang mengubah pola atau strategi kampanye mereka dari branding campaign menjadi performance campaign.

Lewat contextual targeting advertising, brand-brand memperoleh kesempatan untuk jauh lebih bijak dalam mengelola budget media atau budget campaign mereka. Agency besar dan media-media online terkenal yang sejak awal mampu meraup pendapatan besar lewat penempatan iklan Display ad juga dituntut untuk memberikan analisis penempatan iklan yang semakin rinci, atau tidak lagi sekedar branding atau awareness opportunity. Di masa lampau, khususnya ketika display ad mulai muncul dan berkembang sebagai salah satu jenis iklan online yang utama, para pemilik brand cenderung memahami dan menggunakan display sebagai salah satu alat komunikasi yang ditujukan dalam membentuk branding dan awareness. Saat ini penggunaan display advertising dituntut untuk memberikan hasil yang lebih lanjut yaitu performance display dalam bentuk direct response.

Direct response telah menjadi alat ukur yang semakin sering digunakan dalam mengevaluasi iklan display di media-media online. Display ad yang ditempatkan di media-media online bukan lagi sekedar iklan yang berorientasi kepada branding dan awareness namun harus mampu menciptakan respon agar media tersebut dinilai profitable. Branding dan awareness tetap digunakan atau diterima sebagai trigger yang mendorong respon namun display ad tanpa direct respon tetap dianggap jauh dari memuaskan.

Tantangan yang dihadapi pengelola media online memang menjadi seolah tidak selesai-selesai sebab ada banyak media online yang terbukti memiliki jumlah pengunjung yang signifikan dan sukses menghadirkan potensi branding dan awareness atau gross impression yang tinggi namun tidak berkutik menghadapi tuntutan direct response measurement yang digaungkan pemilik brand. Apakah hal ini cukup adil bagi pemilik media? Apakah media dapat dianggap gagal jika ternyata jumlah impression yang mereka sajikan tidak menghasilkan jumlah click atau bentuk-bentuk engagement lain dalam jumlah yang dianggap memadai?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here