Metode Penentuan Budget Iklan

0
282


ADVERTISING-INDONESIA.id – Melalui studi dan pengalaman empiris, seperti yang diamati dan diterangkan oleh Simon Broadbent dalam bukunya tentang penentuan budget iklan, kita mengenal berbagai metode penentuan budget iklan sebagai berikut:

1. Metode Advertising to Sales (A/S atau persentase sales)
Pada umumnya, para pemilik brand memiliki estimasi penjualan pada tahun berikutnya dimana proporsi tertentu dari penjualan tersebut akan ditetapkan sebagai biaya iklan. Dalam metode ini, budget tahun sebelumnya seringkali digunakan sebagai referensi. Kelebihan dari metode ini adalah mudah digunakan, mudah diajukan dan dipertahankan di hadapan manajemen. Selain itu metode ini sangat relevan digunakan untuk brand yang berdaya jual tinggi, dan metode ini sangat baik digunakan dalam menuntun para manager menetapkan rasio antara penjualan, biaya iklan dan untung (profit). Namun ada juga persoalan atau kelemahan dari metode ini seperti kesulitan menetapkan proporsi antara penjualan, biaya iklan dan profit secara tepat sebab memang tidak ada rumus pastinya. Setiap tahun akan ada kecenderungan untuk berubah sesuai dengan kondisi sales dimana suatu brand bisa mengalami overspending (budget terlalu besar) atau underspending (budget terlalu sedikit). Brand yang biasanya menggunakan metode ini adalah: brand yang faktanya mengalami pertumbuhan volume penjualan; brand dengan profit margin yang tinggi; brand yang masih baru diluncurkan, atau brand dengan penggunaan materi iklan baru

2. Metode Advertising to margin
Metode ini menuntun pemilik brand menentukan budget berdasarkan perolehan gross margin setiap tahun. Sebagai contoh, kalau gross margin setiap unit sebesar Rp. 1,000 dan jumlah penjualan diprediksi sebesar 10 juta unit, dan proporsi iklan dialokasikan sebesar 5 persen maka biaya iklan menjadi 0.05 x Rp 1000 x 10,000,000 atau sebesar 500,000,000.

Kelebihan dan kelemahan metode ini adalah kurang lebih sama dengan metode sebelumnya namun terdapat dua kelebihan lain yang sedikit berbeda seperti mudahnya melakukan perubahan harga demi mendapatkan proporsi biaya iklan yang lebih besar, mendorong biaya produksi yang lebih efisien demi mendapatkan margin yang lebih tinggi sehingga biaya iklan menjadi lebih besar,

3. Metode perbandingan terhadap estimasi penjualan dan biaya iklan dalam satu kategori
Budget iklan dihitung berdasarkan estimasi penjualan dan biaya iklan total dari seluruh brand dalam satu kategori. Metode ini mampu mencegah biaya iklan untuk tidak lebih rendah dibanding rata-rata biaya iklan kategori. Brand-brand besar yang bersaing secara ketat dalam satu kategori yang dihuni oleh sejumlah brand yang beriklan secara aktif, biasanya menggunakan metode ini dalam rangka menghindari kehadiran brand (media brand presence) yang terlalu rendah dibanding brand-brand lain dalam satu kategori.

4. Metode Berdasarkan Jumlah Outlet
Metode ini sering digunakan oleh berbagai brand retail yang penjualannya berada di berbagai outlet yang sangat tersebar. Penentuan dan proporsi budget iklan ditetapkan berdasarkan penjualan rata-rata setiap outlet. Kelemahan metode ini adalah kurangnya budget iklan yang akan dialokasikan ke suatu daerah yang outletnya terbatas namun sesungguhnya berpotensi baik dari segi penjualan. Namun biasanya hal ini diatasi dengan subsidi silang antar outlet.

5. Metode Inflasi
Metode ini mengarahkan financial planner dan atau brand manager menetapkan naik turunnya budget berdasarkan inflasi, dan penetapan ini biasanya tidak mengikuti naik turunnya perolehan sales. Artinya, sekalipun sales mengalami penurunan maka biaya iklan biasanya tidak terpengaruh bahkan bisa dinaikkan kalau terjadi inflasi.

6. Metode Berdasarkan Target Sales Yang Dinaikkan
Metode ini merupakan perluasan metode sebelumnya dimana metode ini mengarahkan para perencana biaya untuk menetapkan target berdasarkan target sales yang ditetapkan, namun target ini sering dinaikkan ke level yang lebih tinggi untuk memacu kinerja sales. Misalnya, harga per unit adalah Rp 100, kemudian rasio biaya iklan terhadap sales adalah 7%; apabila target penjualan sebesar Rp 1,000,000,000 maka biaya iklan seharusnya sebesar 7% x Rp 100 x Rp 1,000,000,000. Namun demikian, manajemen seringkali menaikkan target sales untuk mendorong kenaikan budget iklan sehingga sekalipun biaya iklan naik, maka kemungkinan memperoleh sales yang lebih tinggi menjadi terbuka.

7. Metode Terjangkau
Metode ini sangat konvensional, dimana financial planner mengarahkan penentuan budget berdasarkan sisa perolehan penjualan setelah seluruh komponen biaya operasi termasuk produksi dan overheads dikurangi. Berdasarkan sisa perolehan revenue yang masih tersisa, para financial planner kemudian menetapkan biaya iklan. Kalau ternyata masih banyak bagian yang membutuhkan dana seperti bagian riset dan bagian promosi, maka bisa saja budget iklan menjadi sangat terbatas.

Dari seluruh metode tersebut di atas, para manajer pemasaran atau iklan harus memutuskan yang tepat untuk diterapkan dan untuk itu diperlukan kehati-hatian agar budget yang ditetapkan menjadi produktif dan hendaknya tidak dianggap sebagai pemborosan. Bisa dibayangkan kalau brand anda berada dalam persaingan yang ketat, namun komunikasi brand tidak berjalan semestinya, maka pertumbuhan brand akan sangat sulit terjadi. Beriklan menjadi sangat penting terutama ketika permintaan terhadap produk sangat sensitif terhadap iklan, dan contoh produk seperti ini diantaranya adalah produk yang termasuk ke dalam kategori Low Involvement Category Product. Untuk produk seperti ini, permintaan atau perpindahan antar brand sering terjadi dengan cepat dan hampir tanpa pertimbangan.


– Etika Dalam Truthful Advertising
– Peradaban Baru Iklan Di Era Digital
– Berbagai Misteri Advertising

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here