Kemang Avenue: Catatan Ringan Industri Periklanan (1)

0
2127

Ketidakpuasan client terhadap agency seolah tinggi jika diukur berdasarkan tingginya atau seringnya pitching dan semakin seringnya client “memecat” biro iklan mereka dan mencari biro iklan baru.

Agency atau biro iklan yang beroperasi di Indonesia khususnya di Jakarta juga mengalami hal yang sama. Jika para tokoh periklanan Indonesia diberi pertanyaan tentang bagaimana mengelola dan mempertahankan bisnis biro iklan agar tetap memiliki PBIT yang tinggi, maka nada jawaban mereka akan sama saja dengan jawaban para tokoh periklanan negara-negara lain.

Komunitas periklanan Indonesia terkena sindrom akut kepercayaan diri ditengah anggapan bahwa agency dibayar oleh client.

Diskusi di warung kopi di Kemang atau di café di selatan Jakarta yang sempat dikenal sebagai wilayah kantor operasi mayoritas biro iklan Jakarta terasa semakin sepi. Komunitas periklanan Indonesia terkena sindrom akut kepercayaan diri ditengah anggapan bahwa orang-orang agency dibayar oleh client atas apa yang yang dilakukan agency atau workload. Hal ini jelas salah. Workload bukanlah bagian teknis yang disamakan dengan jumlah orang yang bekerja. Agency memang dibayar oleh client sesuai dengan jumlah orang yang bekerja melayani kebutuhan client – jadi bukan semata-mata membayar orang.

Cerita ini masih akan berlanjut. Saya membayangkan café di selatan Jakarta suatu saat akan penuh insan iklan Jakarta bersenda gurau dengan kreatif dan kritis soal nasib biro iklan dan mendiskusikan bukunya Michael Farmer, mungkin kita ganti judul menjadi Kemang Avenue, tertawa bersama insan periklanan Indonesia.

 

Artikel terkait: Kemang Avenue (2)
Quo Vadis Industri Periklanan Indonesia
Beriklan Dengan Bijak
Wawancara Narga Habib