Istilah disruption tidaklah sama dengan digital disruption. Digital Disruption adalah pelibatan teknologi digital dalam operasi bisnis yang mampu mengubah atau merombak suatu tatanan lama dan menghadirkan sesuatu yang benar-benar baru bahkan mampu mengesampingkan teknologi lama (Christensen, HBS). Kita mengakui dan melihat secara nyata keterlibatan atau penggunaan teknologi digital yang menciptakan banyak terobosan baru di bidang pemasaran, penjualan dan model bisnis.
Para ahli, pengamat dan praktisi menilai bahwa Amazon dan Netflix adalah dua contoh anyar digital disruption yang terjadi di dunia media dan industri hiburan dimana konten tidak lagi sekedar diakses oleh audiens namun sekaligus dimonetized secara optimal oleh pengiklan. Berbeda dengan saluran televisi konvensional yang masih mengandalkan program (show) mereka sebagai sumber pendapatan.
Sekali lagi, tidak semua hal baru dapat disebut sebagai disruption. Ketika anda melibatkan teknologi digital atau sekedar menggunakan digitalisasi dalam menghadapi persaingan, maka hal tersebut belum tentu disruption. Menurut para ahli Harvard Business School, jika terobosan anda benar-benar menciptakan pasar yang baru dan customer anda bukanlah mainstream customer, maka anda patut disebut sedang melakukan disruption. Disruption adalah model berpikir dan perlu kita pahami dengan benar. Masih banyak hal tentang disruption, namun setidaknya kita mulai belajar setahap-demi setahap.
| Berita terkait: |
| – Mari Berpikir Skematik |
| – Menjawab Tantang Besar Profesi Account Management |
| – Filosofi Biro Iklan Terkenal: Bates, DBWA, dan DDB |




























