Integritas dan Eksistensi Brand

0
4057


Kepercayaan pelanggan yang tinggi terhadap suatu brand akan menjamin eksistensi brand dalam jangka panjang. Kepercayaan ini hanya akan terbentuk jika suatu brand benar-benar peduli dengan nilai-nilai integritas, yaitu: kejujuran, keterbukaan, prinsip etika dan karakter moral. Para pengelola brand diminta untuk terus menerapkan nilai-nilai integritas saat berhubungan dengan pelanggan, komunitas, dan lingkungan. Ketika brand mengabaikan nilai-nilai integritas ini, maka tingkat kepercayaan pelanggan akan menurun dan tentu akan mengancam eksistensi brand.

Di tengah-tengah persaingan antar brand yang semakin menggila, tantangan yang dihadapi para penglola brand dalam menjaga integritas brand memang semakin berat. Alih-alih menaikkan integritas, banyak aktifitas komunikasi yang dijalankan suatu brand malah menghasilkan citra negatif. Salah satunya adalah penyebarluasan pesan-pesan komersial dengan kualitas rendah atau dianggap tidak jujur yang setiap hari membanjiri perangkat-perangkat personal (personal devices) pelanggan. Salah satu fakta yang ditemukan lewat studi-studi hubungan brand dengan pelanggan, terungkap bahwa tingkat kepercayaan pelanggan terhadap sebuah brand sangat dipengaruhi oleh persepsi mereka terhadap integritas brand. Integritas atau kejujuran masih dianggap sebagai hal yang langka saat ini, terutama ketika pasar terhisap dalam situasi persaingan yang kerap mengaburkan nilai-nilai kejujuran. Brand-brand yang tidak jujur sudah pasti akan mengalami kesulitan untuk bertahan.

Ragam contoh ketidakjujuran brand yang masih sering terjadi. Kita seringkali menemui barang atau produk yang sesungguhnya tidak layak untuk dikonsumsi tapi masih dijual padahal sudah mendekati masa kadaluarsa, kemasan yang tampak kurang terawat, kandungan atau komposisi isi yang sesungguhnya tidak direkomendasikan dan lain-lain. Konsumen yang bijak tentu akan dengan mudah merasakan ketidakjujuran brand termasuk ketika klaim dilakukan dengan berlebihan.

Iklan Bisa Kontraproduktif

Salah satu keluhan konsumen saat ini adalah banyaknya terpaan pesan iklan yang sangat mengganggu konsumen. Pesan iklan seolah menjadi gangguan yang berpotensi merusak kenyamanan konsumen. Lewat sebuah survey yang dilakukan pada tahun 2004 oleh Yankelovich Partners dan dituliskan oleh Upshaw dalam bukunya Truth, terungkap keluhan responden yang menganggap para pemasar tidak menaruh respek terhadap kehidupan pribadi mereka, akibatnya mereka berencana menurunkan standar hidup mereka demi mempertahankan diri dari serbuan pesan komersil. Hal ini terasa aneh atau sesuatu hal yang tidak biasa jika dikaitkan dengan niat individu dalam menaikkan standar hidup sehari-hari. Namun menjadi masuk di akal ketika serbuan iklan yang mengajak pelanggan menjadi konsumtif dianggap sebagai suatu gangguan.

Kepercayaan terhadap sebuah brand ternyata bisa menurun kalau konsumen merasa pesan yang diterima dianggap berlebihan, baik karena jumlah atau frekuensi maupun isinya. Karena itulah para pemasar harus berhati-hati dalam ‘perlombaan’  menyampaikan pesan iklan. Masalahnya, sejumlah brand seolah-olah menempatkan iklan sebagai faktor utama penentu eksistensi brand, apalagi ketika iklan dihubungkan dengan tingkat brand awareness atau top of mind yang sering dipakai sebagai salah satu ukuran dalam mengukur kualitas brand.

Konsumen sudah semakin bijak dan mereka akan menyikapi serbuan pesan iklan dengan lebih hati-hati, dan tidak saja berhati-hati terhadap iklan, namun juga terhadap berbagai upaya marketing lain yang sangat masif. Membangun integritas menjadi sangat penting dalam menjaga dan membangun kepercayaan pasar. Sejumlah strategi yang dapat dilakukan dalam membangun integritas brand adalah: menjaga mutu fisik produk sekaligus nilai-nilai kejujuran produk, selalu menjunjung keterbukaan, mendengar suara pelanggan dan menempatkan mereka sebagai mitra sejajar, tidak menempatkan harga sebagai pemikat utama konsumen.

Proposisi Berdasarkan Tingkat Kepercayaan.

Saat ini semakin banyak brand yang menggunakan faktor kepercayaan sebagai salah satu faktor utama dalam membangun dan mempertahankan penjualan atau konsumsi pelanggan. Artinya, proposisi berdasarkan tingkat kepercayaan terhadap brand sudah semakin penting sementara proposisi berbasis harga atau efisiensi semakin melemah.

Mutu fisik produk adalah salah satu kunci utama keberhasilan brand dalam membangun kepercayaan jangka panjang. Mutu produk akan menghasilkan kepuasan pelanggan yang bersifat langsung atau dapat dirasakan dengan segera oleh konsumen. Hal ini bisa terjadi jika produsen sungguh-sungguh berorientasi kepada kebutuhan konsumen. Produsen yang mendengarkan suara konsumen dan menggunakannya sebagai landasan pengembangan produk berarti telah menempatkan mereka sebagai partner sejajar.

 


– Brand Exposure Diatas Kecepatan 200 Km/Jam
– Iklan Meikarta Per September Tembus 1,2 Triliun!
– Masyarakat Indonesia Semakin Rasional
– Tantangan dan Peluang Periklanan di Kwartal Terakhir 2017