Membangun Strategi Komunikasi Secara Hati-hati
Mengatasi penyebaran pesan berantai yang begitu cepat melalui sosial media memang melelahkan, terutama bagi PR agency dan juga advertising agency. Bagaimana tidak melelahkan? Brand campaign yang dibangun bertahun-tahun jadi ternoda gara-gara pesan berantai yang tidak bisa dipertanggungjawabkan?
Untuk menjawab pertanyaan sekaligus “menenangkan hati publik” terhadap keluhan terhadap brand harus menggunakan strategi extra hati-hati. Pesan harus benar-benar jelas dan terukur. Disaat seperti ini, rasanya tidak cukup jika menjawab pertanyaan dengan sosial media saja. Untuk menjawab pertanyaan tersebut ada baiknya menggunakan media konvensional agar pesan seragam dengan beberapa langkah strategis seperti berikut:
1. Analis Penggiat Safetydriving. Mengajak publik untuk mengetahui bahwa brand menggunakan analis penggiat safetydriving dan kepolisian untuk memastikan penyebab kecelakaan dan mengapa korbannya terluka parah. Pandangan analis independen terhadap sebuah kecelakaan tentu perlu didukung oleh fakta-fakta dan bukti otentik.
2. Edukasi Soal Konten. Publik perlu di edukasi tentang konten dari pesan yang tersebar. Edukasi ke publik bahwa pesan berantai tanpa sumber yang jelas memiliki tingkat validitas yang rendah untuk dipertanggungjawabkan atau bahkan jika pesan tersebut tidak benar sama sekali maka dapat dipastikan bahwa berita tersebut adalah berita bohong atau HOAX.
3. Menjauhi Sikap Politik. Dunia politik di Indonesia banyak menyebabkan sebagian besar masyarakat menjadi “Like or Dislike” tanpa melihat bingkai yang lebih luas. Jadi, apa yang perlu dilakukan? Jawabannya hanya satu yaitu jauhi dunia politik. Berkomunikasi seperlunya, sesuai dengan daya tangkap masyarakat sehingga pesan tidak dilebih-lebihkan.
![]()
– Benarkah Facebook Medium ‘Primadona’ bagi Dunia Periklanan?
– The 1st Media Planners Forum: Berkumpul dan Mewarnai Industri Periklanan di Era Digital




























