Media Cetak Menjemput Ajal

0
4558

Kita tinggalkan sejenak masalah dalam atau tidaknya sebuah tulisan yang disajikan oleh media online atau konvensional, karena fokusnya bukan kesana tetapi lebih kepada budaya pergeseran pembaca yang disebabkan oleh kecanggihan sebuah peradaban jaman dan teknologi.

Kebangkrutan sebuah media adalah masalah yang kompleks. “Majalah gaya hidup berguguran bisa jadi karena banyak alasan; iklan, internet, hingga manajemen.

Ongkos operasional majalah gaya hidup cukup besar. Terlebih, model bisnis franchise yang diusung oleh media gaya hidup di Indonesia seperti FHM dan Rolling Stone Indonesia. Sebab, mereka harus membayar mahal penggunaan namanya pada pemilik franchise di luar negeri.

Media gaya hidup menawarkan kebutuhan tersier bagi masyarakat sehingga target pasarnya terlalu tersegmentasi. Persoalannya kompleks lantaran menyangkut juga ke budaya literasi.

Selain itu aktualisasi diri generasi millenials jaman sekarang terbentuk lewat sosial media, tidak lagi melalui majalah. Lewat sosial media pula, para selebritis, yang sebelumnya memerlukan publikasi lewat media cetak, kini bisa langsung menyapa penggemar mereka. Ya, peradaban seperti inilah yang sejatinya sangat mematikan media konvensional. Dimana medium seperti media cetak tidak lagi dibutuhkan ketika kecanggihan teknologi itu bisa memberikan efisiensi yang demikian luar biasa.

Sejatinya memang terasa naif sekali ketika kita atau orang-orang yang berada dibalik (media konvensional) menyalahkan kehadiran teknologi. Yang namanya peradaban pasti akan selalu mengalami perubahan yang maju bukan kemunduran. Justru sebaliknya melihat pengalaman banyaknya media konvensional yang berguguran meski ditopang oleh sebuah grup usaha besar, harusnya media konvensional sesegera mungkin bebenah diri mencari formulasi yang tepat sasaran ditengah kondisi jaman yang serba digital ini.

Beberapa waktu yang lalu, Nielsen Indonesia pernah menyebutkan bahwa masyarakat yang membaca media cetak pun didominasi oleh orang-orang berusia 20-49 tahun dengan porsi sebanyak 73%. Hanya 10% anak muda berusia 10-19 tahun yang mengakses media cetak sebagai sumber informasinya. Sebaliknya, sebanyak 17% anak muda memperoleh informasi lewat internet. Sehingga, generasi muda merupakan sasaran pasar di masa depan.

Jadi bisa disimpulkan iklan bukan penyebab signifikan matinya bisnis media cetak majalah gaya hidup. Alasannya, media digital juga belum bisa mengandalkan iklan untuk meraup keuntungan.

Tak hanya jumlah pembaca, pengeluaran iklan untuk media cetak pun berkurang. Pada Januari-September 2017, jumlah belanja iklan media cetak Rp 21,8 triliun, berkurang 13% dibanding periode yang sama pada 2013 yakni Rp 25 triliun.

Selain itu, produsen media cetak juga berkurang sebesar 23%. Nielsen mencatat ada 268 media cetak pada 2013, namun merosot tajam menjadi hanya 192 media hingga November 2017. Namun, angka itu dipengaruhi oleh penurunan jumlah produsen tabloid dan majalah yang berkurang sebanyak 92 unit.