Femina Riwayatmu Dulu dan Kini . . . . .

0
6109


ADVERTISING-INDONESIA.id – Siapa yang tak kenal dengan majalah Femina. Femina adalah sebuah majalah gaya hidup (lifestyle) yang demikian bergengsi di tanah air, khususnya di Ibukota Jakarta. Tak heran dalam setiap penerbitannya Femina selalu menjadi barometer bagi setiap pelaku gaya hidup yang didominasi oleh para kaum A+. Tak dipungkiri juga jika Femina mempunyai daya magis dan reputasi yang demikian kuat bagi pembacanya. Alhasil banyak media serupa turut bermunculan guna mengalahkan bisnis dari Femina. Tapi tetap saja Femina begitu melekat dihati pembaca loyalnya.

Sedikit kilas balik, dahulu Femina Group bermula dari pendirian Femina, majalah wanita pertama di Indonesia pada 1972. yang diinisiasi oleh Sofyan Alisjahbana bersama adiknya, Mirta Kartohadiprodjo, serta istrinya, Pia Alisjahbana. Juga ada Atiek Makarim dan Widarti Goenawan. Kemudian bisnis mereka lambat laun terus berkembang sehingga bisa melahirkan sejumlah media lainnya didalam naungan grup Femina, termasuk yang masih bertahan adalah DewiGADIS, dan Ayahbunda.

Tapi sayang di sayang sekarang kondisi bisnis sudah sangat berubah, semua bisnis media cetak hancur berguguran tergerus oleh tsunami digital. Femina Group sendiri sebagai salah satu kelompok media gaya hidup tertua di Indonesia turut terkena dampak dari digitalisasi media dan kini sedang menghadapi masalah keuangan yang demikian berat sehingga membuat bisnis Femina Group yang tadinya kokoh, punya reputasi besar, bergengsi, semuanya itu hanya tinggal kenangan saja. Kita tidak mengetahui persis apa penyebab dari runtuhnya kerjaaan bisnis Femina group. Apakah karena keterlenaan yang sudah merasa berada di zona bisnis yang nyaman kala itu sehingga merasa tak perlu lagi melakukan transformasi dalam bisnis media yang dijalankannya atau memang sebaliknya karena ketidaksiapan menerima gempuran maha dahsyat dari arus digitalisasi yang memporakporandakan seluruh sendi-sendi unit bisnis Femina Group.

Tak terbayangkan saja dalam pikiran, kalau Femina yang dulu kita kenal demikian ‘seksi’ dan bergengsi tinggi dimata para pembacanya sekarang berbalik keadaannya harus menghadapi kenyataan yang sungguh pahit. Salah satunya adalah adanya perselisihan yang terjadi antara manajemen dengan karyawan soal pengupahan yang sangat tersendat dan publikpun mengetahui hal ini secara terbuka.

Malahan sedikitpun tak pernah terbayangkan juga kalau Femina bakalan menghadapi masa-masa kritis seperti yang dialaminya sekarang ini. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi? pertanyaaan itu yang pasti terngiang-ngiang dalam pikiran pembaca setianya. Kalau dilihat secara konten Femina selalu memberikan sajian-sajian atau ulasan-ulasan konten terbaiknya, secara porsi pendapatan iklan tentu hal ini juga berjalan beriringan dengan konten yang selalu dimaknai oleh pembacanya diatas kualitas, jadi bisa dipastikan iklan di Femina itu selalu full order di setiap edisinya, malah kadang kala bisa sampai waiting list  untuk bisa memasang iklan di Femina. Hal ini bisa disaksikan sendiri bagaimana disetiap halamannya Femina selalu saja disesaki oleh beragam iklan. Belum lagi kalau edisi khusus yang mau disajikan oleh redaksi iklan itu boleh dibilang sampai berebut halaman (slot). Sangkin banyaknya iklan yang terpampang di setiap terbitan majalah Femina pembacanya sendiri terkadang suka kesal karena isi kontennya jadi tergerus dengan iklan.

Kita semua mengetahui bahwa sejatinya iklan adalah salah satu pondasi utama yang menopang kehidupan bisnis di industri media, apapun itu bentuk medianya. Iklan adalah ‘Raja’ dalam bisnis insdutri media. Jadi bila sebuah media diisi oleh banyak iklan, bisa dikatakan media itu sangat dipercaya baik dimata klien ataupun pembacanya. Iklan memang bukan sekedar bicara soal bisnis (uang) tetapi lebih daripada itu iklan itu menunjukkan bukti dari adanya sebuah kepercayaan (Trust) yang maha tinggi baik dilihat dari sisi klien ataupun dari sisi pembacanya. Femina sudah membuktikannya sendiri di saat mereka sedang berada di masa kejayaannya ‘nggak’ perduli seberapa banyak iklan yang terpampang dalam setiap penerbitannya, toh pembacanya tetap loyal dan terus berlangganan walalupun porsi isi editorial seringkali seolah berkurang.

Terbetik kabar bahwa manajemen Femina atau perusahaan menerapkan skema pembayaran gaji karyawan dengan cara dicicil sebagai salah satu solusi untuk menjaga kelangsungan bisnis. Selain itu, perusahaan juga melakukan berbagai efisiensi, termasuk menjual beberapa aset untuk memperbaiki kondisi keuangannya. Chief Executive Officer Femina Group Svida Alisjahbana menyatakan bahwa kebijakan yang diambil perusahaan saat ini adalah bagian dari visi jangka panjang perusahaan. “Kami ingin restrukturisasi dalam waktu cepat, sekarang kami sedang menghitung sumber daya yang ada,” kata Svida. Selain meningkatkan digitalisasi, saat ini fokus Femina adalah memperbaiki kinerja keuangan.


– FEMINA, Brand Besar Yang Sedang Berjuang
– Media Cetak Menjemput Ajal
– Meneropong Nasib Media Cetak di Tahun 2018
– Peluang Media di Tahun 2018 Tahun Kredibilitas Media