Menanti Gong Terakhir Bisnis Media Cetak

0
1973


ADVERTISING-INDONESIA.id – Raksasa-raksasa pengelola bisnis media cetak di Indonesia menghadapi badai usaha yang sangat menggentarkan. Gramedia yang dulu dikenal memiliki puluhan judul media cetak secara perlahan tapi pasti mulai mengurangi kehadiran mereka di gelanggang pertempuran bisnis media cetak, sejumlah media cetak yang berada di bawah naungan grup Gramedia ditarik dari tengah pertempuran dan ditutup. Masih ada yang terus bertahan, entah sampai kapan. Ada banyak kesan yang ditinggalkan, serta beragam pesan yang dibangun sekian puluh tahun.

Demikian juga grup penerbitan besar seperti MRA dan Femina. Grup-grup yang dikenal sangat piawai dalam mengelola media cetak ini seolah tak mampu menghadapi gelombang media digital yang menggulung-gulung dan menghempaskan bisnis media cetak ke pinggir arena permainan hingga kemudian keluar gelanggang. Upaya untuk bertahan memang terus dilakukan, seperti mengubah bentuk menjadi digital dengan harapan para pembaca akan memindahkan kebiasaan mereka dari membaca kertas menjadi pembaca layar digital. Persoalannya adalah, sebagian pengelola media cetak dinilai melakukannya dengan sangat terlambat atau melakukannya ketika dominasi konten media-media digital sudah sangat kuat. Sebagian lagi melakukannya dengan setengah hati, tanpa promosi dan upaya marketing yang signifikan. Hal inilah yang menghambat pertumbuhan dan perpindahan pembaca media cetak yang pada awalnya diperkirakan akan melakukannya dengan mudah. Anggapanya adalah, mereka adalah pembaca setia selama puluhan tahun sehingga migrasi akan terjadi dengan seksama dan dalam tempo yang sedemikian singkat.

Ada banyak prediksi yang salah, kepercayaan diri manajemen yang terlalu tinggi dan selalu menyebut bahwa media cetak akan bertahan. Ada ragam faktor yang tidak bisa diantisipasi, seperti menurunnya jumlah pembaca media cetak akibat pertambahan usia dan tidak tergantikan oleh pembaca muda yang lebih berorientasi digital. Jika pembaca muda sungguh-sungguh berorientasi digital, mengapa wujud digital sejumlah media cetak lawas tidak menarik untuk dikonsumsi? Bahkan oleh pembaca senior sekalipun?

Hal inilah yang menurut Advertising Indonesia terlambat diantisipasi. Pembaca muda, khususnya mereka yang lahir di era 90an sangat akrab dengan perangkat digital yang sayangnya dan hebatnya menawarkan ribuan konten tanpa berbayar. Tentu ini akan menciptakan kontestasi media dan atensi yang sangat hebat. Ribuan media menyerbu pengguna perangkat digital tanpa henti, gelombangnya sangat hebat dan menerpa setiap hari. Media-media cetak lama akhirnya dipaksa berebutan dengan seluruh media yang menyesaki ‘halaman’ perangkat digital. Perebutan audiens inilah yang tidak pernah dibayangkan dan ternyata sangat berat. Ketika media cetak masih sendiri dan dominan, audiens tidak punya pilhan dan keakraban itu terbangun bertahun-tahun tanpa diatur dan dipaksa. Sayangnya, pola pengelolaan audiens media cetak tidak berlangsung dengan baik, lagi-lagi tim customer management media cetak tidak bekerja sebagaimana mestinya.

Ketika media digital mulai muncul dan tawaran-tawaran konten mulai meningkat bahkan membuncah tiada henti, audiens dengan segera menyambar dan meninggalkan media cetak yang dianggap kuno, lamban, dan selama ini dianggap terlalu dominan. Dominasi inipun ternyata tidak begitu disukai oleh audiens sebab manusia manapun lebih menyukai kebebasan. Timbulnya pewarta dan penulis bebas dalam bentuk jaringan warta penulis (netizen) semakin mengaburkan posisi media cetak. Bahkan penulis tingkat dewa atau yang betul-betul sangat ahli muncul dan membanjiri media-media digital, baik personal, kelompok maupun korporasi.

Malapetaka ini semakin bertambah ketika pengiklan menyuarakan ketidakpuasan mereka selama bertahun-tahun dengan media cetak yang dianggap tidak terbuka dengan data. Jika dibandingkan dengan data yang disediakan oleh media-media digital yang sangat accountable, maka nasib media cetak diduga akan segera tamat. Kehebatan iklan display secara kreatif memang diakui oleh para pemilik brand dan terbukti menjadi salah satu bentuk iklan yang meramaikan media cetak dan industri periklanan selama puluhan tahun. Namun ketika media digital menawarkan ragam teknik komunikasi brand yang sangat interaktif dan terukur, iklan display di media cetak perlahan-lahan terpinggirkan. Tuntutan soal data yang membuktikan efektifitas iklan media cetak semakin deras dan sayangnya tidak bisa dipenuhi dengan baik oleh pengelola media cetak.

Nah, sayangnya lagi, para pemilik media cetak dan asosiasi yang menaunginya seolah tidak berdaya bahkan membiarkan nasib industri media cetak terpuruk semakin dalam. Mereka diam tak berdaya. Bahkan imbauan untuk melakukan kampanye bersama tidak disambut. Bahkan, masih saja ada media cetak yang tidak mengubah data di media kit mereka dalam hal jumlah copy yang benar-benar dicetak, beredar dan terjual. Ketika media cetak sangat dominan, angka-angka ajaib sirkulasi kerap dipertontonkan dan oleh para media planner hal itu diterima dengan cara melakukan koreksi hingga 50 persen. Selama berpuluh tahun banyak media cetak yang tidak bersedia melakukan audit sirkulasi.

Audiens semakin lama semakin mengabaikan media cetak, pelanggan mulai berguguran, edisi reguler berbagai media cetak dengan nama besar mulai tersendat karena ketiadaan biaya cetak. Jumlah copy yang didistribusikan diturunkan hingga tampak sekedar memenuhi kewajiban edar.  Para penulis media cetak mulai mengalihkan profesi menjadi penulis lepas, sebagian mengabdikan diri menjadi praktisi kehumasan. Saat ini kita melihat sejumlah media cetak yang masih terus bertahan dan setia menemui pembacanya, dengan segala upaya restrukturisasi keuangan dan operasional. Tanpa iklan, daya tahan mereka akan terus menurun sebab pemasukan melalui penjualan fisik (copy based) jelas tidak memadai bahkan merugi. Kita tidak pernah bisa menduga, kapan gong terakhir akan dipukul sebagai tanda bubarnya bisnis media cetak di Indonesia. Kita masih terus berharap agar media-media cetak lokal bisa bertahan demi menjaga kearifan lokal atau nilai-nilai tradisional yang bermanfaat bagi bangsa ini.

 


– FEMINA, Brand Besar Yang Sedang Berjuang
– Media Cetak Menjemput Ajal
– Meneropong Nasib Media Cetak di Tahun 2018
– Peluang Media di Tahun 2018 Tahun Kredibilitas Media