
|
|
Harus diakui bahwa media digital telah membuka kesempatan yang sangat praktis bahkan terkesan mudah dan murah dalam hal penciptaan konten baik konten teks, audio maupun video digital. Dalam beberapa level tertentu, pendistribusian atau transmisinya juga dapat dilakukan dengan sangat mudah dan cepat. Fenomena Twitter, Facebook, Instagram, dan Youtube adalah sebagian dari media sosial digital yang menjadi bagian dari revolusi lansekap media yang terus meluas dan kompleks.
Kalau kita menoleh sejenak ke era dimana media konvensional begitu dominan hingga digambarkan dalam teori jarum suntik, maka saat ini kita seolah berada di dunia mimpi. Ada banyak hal yang sebelumnya hanya tertera di buku fiksi atau imajiner, saat ini benar-benar terbukti atau terimplementasi. Banyak pihak yang benar-benar kelabakan menghadapi situasi dan kondisi serbuan media dan konten digital yang sangat ekstrim. Generasi 50, 60, 70 bahkan 80an yang masih akrab dengan dunia media konvensional benar-benar tergagap ketika dipaksa untuk mencoba baradaptasi dengan media digital hingga kemudian akhirnya ikut meninggalkan media konvensional.
Jumlah pengguna media cetak yang menurun drastis telah memaksa begitu banyak media cetak legendaris bubar secara operasional atau beralih ke platform digital. Media Televisi dan Radio konvensional masih mencoba bertahan sekalipun pentransmisian aerial analog sudah pasti akan ditinggalkan atau dihapuskan, berganti ke transmisi digital termasuk live streaming. Salah satu media konvensional yang masih mencoba bertahan khususnya di perkotaan adalah bioskop yang hingga kini terus mempercantik diri dengan teknologi audio visual yang semakin memukau penonton. Teknik penggarapan film yang semakin canggih juga menjadi salah satu faktor yang mendorong penonton berbondong-bondong ke bioskop.





























