Inovasi Disruptif Media Digital

0
1442

Media digital telah memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap kehidupan dan tatanan budaya masyarakat dunia. Konten media digital seolah tidak terbatas dan tidak terbendung serta terdistribusi secara global hingga ke pelosok-pelosok. Masyarakat yang terkoneksi dengan jaringan internet kecepatan tinggi masuk ke dunia media digital dengan pilihan bebas, bahkan seolah tanpa sensor, dalam keabu-abuan hak cipta bahkan mungkin terjebak dalam konten penuh konflik.

Tanpa disadari atau bahkan disadari penuh, setiap hari kita diserbu atau diganggu oleh software-software baru yang sangat menggoda, image digital yang menawan, video digital yang mengasikkan, web game yang menghabiskan waktu, website yang sebagian membuat kita semakin pintar namun tidak jarang merusak pikiran dan megganggu emosi kita, media sosial yang membuat kita justru semakin anti sosial, audio digital yang membuat kita mendengar musik dan lagu dengan nyaman tanpa harus membayar royalty, pesan-pesan pemasaran digital yang tanpa sadar mengajak kita menguras kantong, pesan sale dan diskon digital yang membuat jari tangan kita memindahkan jenis barang ke keranjang belanja digital dan mengklik kartu kredit untuk pembayaran.

Orang menyebut semua situasi yang sangat fenomenal ini sebagai inovasi yang disruptif dalam berbagai bidang termasuk jurnalistik, publikasi, public relations, dunia hiburan, dunia pendidikan, perdagangan hingga politik. Namun tersirat bahwa inovasi disruptif ini belum tentu meninggalkan jejak yang baik. Sebagai contoh, masyarakat yang berpikiran normal sudah mulai merasakan dampak buruk dari begitu mudahnya anak-anak remaja bahkan usia sekolah dasar (6 hingga 12 tahun) mengakses konten digital yang tidak berkaitan dengan usia dan tingkat pendidikan mereka. Bahkan pemerintah sudah mulai merasakan dampak negatif dari kebebasan penggunaan media-media sosial dengan jargon demokrasi berbicara yang menyebarluaskan pesan-pesan negatif atau pesan yang berpotensi menciptakan permusuhan dan disintegrasi.

Kita tidak anti invovasi sebab inovasi diperlukan untuk mengubah wajah dunia ke arah yang lebih baik. Pertanyaannya adalah apakah inovasi media digital yang telah membantu menciptakan pasar yang baru, bahkan menggantikan ragam teknologi terdahulu benar-benar akan membwa dunia ke arah yang lebih baik? Belum tentu juga. Sementara sarapan pagi dengan koran cetak sejumlah 24 halaman tampaknya akan lenyap dan menjadi cerita sejarah klasik yang pasti sulit dimengerti oleh generasi pasca-milenial, sebab mata mereka tidak pernah tertumbuk koran cetak.

 


Brand Engagement Di Era Digital
Bisnis Media Konvensional: A Sunset Business?
Advertising dan Branding
Media Planning di Era Media Digital