Rating! Penentu Nasib Bisnis Stasiun Televisi?

0
6675

Namun demikian harus juga diakui bahwa dengan semakin banyaknya stasiun TV di Indonesia telah menyisakan pekerjaan rumah baru yang semakin berat bagi pengelola stasiun TV.  Rating total seluruh stasiun televisi cenderung menurun dan perolehan rating masing-masing stasiun televisi cenderung semakin mengecil. Bahkan, sejumlah program televisi hanya memiliki rating dikisaran nol koma atau dibawah 1.  Itu artinya jumlah penonton mereka hanya 1% atau di bawah 1% dari total populasi. Jumlah ini dinilai sangat kecil dan ketika dikonversikan menjadi angka rill maka jumlahnya bisa hanya sekitar seratus ribu atau bahkan di bawah seratus ribu.

Bagi pengiklan, rating program TV di bawah 1 atau sebutlah diantara 1 dan 2 sangatlah kecil dan akan menimbulkan persoalan baru ketika harga pemasangan iklan di program tersebut dianggap terlalu mahal.  Bisa saja perhitungan akhirnya tidak lagi menggunakan Cost per Rating namun diarahkan menjadi Cost per Contact atau Cost per Thousand atau Cost per mille, sebab ketika rating berada di bawah 1 maka Cost per Rating menjadi tidak relevan.

Persoalan utama stasiun televisi dengan rating program di bawah 1 adalah sulitnya meyakinkan pengiklan untuk menempatkan iklan mereka di program tersebut dengan harga sesuai dengan rate card.  Alasan penolakan pengiklan jelas adalah harga yang dianggap mahal jika dibandingkan dengan harga yang ditawarkan stasiun TV dengan rating yang lebih tinggi untuk program dengan kemiripan konten yang tinggi.  Jika harga diturunkan sesuai persaingan rating maka otomatis pendapatan stasiun TV dengan rating program rendah akan sangat kecil dan jelas akan mengancam eksistensi mereka.  Akan sangat mudah bagi pengiklan untuk melakukan justifikasi harga ketika menyadari bahwa jenis program yang ditayangkan antar stasiun TV cenderung mirip atau memiliki konten yang sama namun salah satunya memiliki rating yang cukup rendah dibanding pesaingnya.

Mereka hanya melihat dari sisi bisnis bahwa program dengan rating rendah wajib dijual dengan harga rendah. 

Program dengan rating rendah sudah pasti akan ditawar lebih murah tanpa memperhitungkan atau memedulikan biaya produksi program tersebut.  Pengiklan tidak akan menaruh perhatian terhadap  biaya produksi program TV yang cenderung semakin mahal dan juga biaya pengoperasian stasiun TV yang cenderung meningkat.

Untuk bertahan, pengelola stasiun TV perlu berhitung dengan lebih cermat atas kemampuan pengembalian investasi setiap program serta menghitung ulang seluruh potensi rating yang mungkin dihasilkan oleh setiap program.  Jika hasil perkalian antara rata-rata biaya cost per rating industri dengan total rating ternyata hanya menghasilkan potensi penerimaan yang jauh di bawah biaya operasional total, apakah usaha atau operasional stasiun TV masih bisa diteruskan?