Persaingan Timpang Advertising Agency?

0
5155

Sebagai contoh, di era media konvensional, pendefinisian target audiens tampak begitu sederhana. Ketika sebuah pesan hendak dirancang, para praktisi brand dan advertising tidak sulit menetapkan dan menyepakati definisi target audiens yang akan diajak berkomunikasi. Definisi ini pada umumnya kurang lebih sama dengan definisi target audiens yang ditetapkan oleh rumah media. Sederhananya adalah ditetapkan secara demografis dan psikografis.  Masih di era yang sama, data yang tersedia sangat terbatas bahkan seringkali tidak tersedia.  Intuisi menjadi yang utama, pengalaman sebelumnya seringkali menjadi patokan, dalam istilah baru saat ini hanya copy-paste. Strategi copy-paste ini kerap muncul pada saat menyiapkan strategi media.  Keterbatasan media menjadi alasan utama, sehingga para media planner kerap dituding tidak perlu kerja keras di era media konvensional sehingga posisi ‘orang media’pun kerap dinomorduakan.

Era data terbataspun kemudian lewat. Saat ini, semakin banyak perusahaan yang berupaya menjadi datafied.

Era data terbataspun kemudian lewat. Saat ini, semakin banyak perusahaan yang berupaya menjadi datafied, artinya para pemilik brand berupaya menggabungkan secara kolektif baik penggunaan alat, teknologi dan proses dalam membangun sosok perusahaan yang berorientasi dan berbasis data (data-driven enterprise).

Ada begitu banyak data yang bisa dilacak (tracked) hingga kemudian tersedia dalam bentuk big data yang terstruktur. Pengolahan dan penyajian data menjadi keharusan.  Semua serba terukur termasuk misalnya pendefinisian audiens yang harus semakin tajam (niche) dan strategi komunikasi brandpun harus terbarui.  Social media data menjadi salah satu contoh yang jika dipetakan akan menghasilkan profil audiens berdasarkan aktifitas media sosial yang mereka lakukan. Hal ini kemudian akan menghasilkan strategi komunikasi yang lebih bervariasi

Advertising agency di era digital tak pelak dituntut mengimbangi hal ini  dengan  kesiapan infrastruktur (data dan alat) serta sumberdaya manusia yang kompeten.  Dalam situasi seperti ini, perusahaan manakah yang bisa bertahan, bertumbuh dan berkembang? Apakah perusahaan lokal masih mampu mengimbangi sepak terjang perusahaan asing? Dalam skala manakah mereka bisa bersaing? Apakah akan semakin sulit buat ‘pemain lokal’ untuk menjadi pemain berskala besar di era digital saat ini?

Rating! Penentu Nasib Bisnis Stasiun Televisi?
– Hal-Hal Menarik Tentang Viral