Bisnis Advertising
FALSE PARTNERSHIP AGENSI DAN CLIENT

0
6635

Alhasil, banyak agency lokal yang terperangah ketika arus gelombang perubahan menerobos batas kemapanan hingga kemudian partnership yang sudah terjalin lama menjadi pecah. Pola hubungan yang selama ini berlangsung dalam suasana keakraban, atas dasar dorongan hati nurani yang kuat perlahan-lahan bubar dan menjelma menjadi pola hubungan yang sedikit lebih provokatif: take it or leave it.  “Kalau mau dengan ‘harga’ yang ‘kumau’ (begitu kira-kira ungkapan client) ambillah atau tetangga sebelah akan mengambil alih.”  Oh, mungkin selama ini yang terjadi adalah False Partnership!

Pada awalnya client menekan lewat new media deals, kemudian merambah ke creative deals hingga akhirnya fragmentasi jasa periklanan menjadi keniscayaan. Rumah-rumah besar periklanan mulai sepi bak warung yang ditinggal pembeli.  Ikat pinggang diketatkan, pola usaha berubah, komunitas industri periklanan menghadapi era baru.  Hubungan kompleks antara agency dan client menjadi potret baru industri periklanan Indonesia.  Semua berbenah, semua berlomba hingga akhirnya di garis akhir hanya tersisa mereka yang pintar bersiasat, entah itu jujur atau tidak.

Sebagian berseru bahwa jika mau benar-benar bertahan di era persaingan terbuka seperti sekarang ini, agensi harus siap bertarung dengan ‘gigi gemeratuk’ dan ‘rahang yang kuat’ bak petinju.  Agensi harus bertindak cepat dan dengan mata yang selalu terbuka. Partnership komunal sudah berubah menjadi partnership agresif. Semua pemain harus menunjukkan niat berkompetisi yang kuat.  Client masa kini (bukan client masa itu) menuntut agensi untuk memiliki aset yang kompetitif dan kuat.  Client menuntut output optimal dari segala partnership yang terjalin yaitu: outstanding business performance.  Hingga akhirnya, kepada para agensi lokal disarankan untuk datang ke meja perundingan dengan membawa bukti pengalaman yang hebat dan besar, serta kemampuan teknis dan taktis yang teruji. 

Selamat tinggal False Partnership

06/26/2020