Wawancara Narga Habib (Mantan Ketua Dewan Pertimbangan P3I)

0
6251
Ekspresi Narga Habib (kanan) saat diwawancara tentang persaingan di dunia industri periklanan Indonesia.

Q: Kenapa sekarang kita menyerah pada tekanan client? Apa yang bisa dilakukan presidium P3I ini untuk menghargai agency?

A: Kalau ngomong tim 7 tidak ada yang bisa kami lakukan untuk eksternal. Itu karena yang kami lakukan ini untuk internal asosiasi. Setelah kongres ketemu yang baru, mungkin itu bisa dilakukan. Sekarang ini, misalnya kita berhadapan dengan tim procurement, kita dianggap sebagai komoditas. Kalau semua anggota P3I tidak ingin diperlakukan seperti komoditas, bisakah juga client memperlakukan seperti itu?

Q: Itu kalau agency yang termasuk ke dalam anggota P3I. Tapi kalau bukan anggota?

A: Kalau kita punya asosiasi yang kuat. Mereka tidak bisa cari kerja di Indonesia.

Q: Apakah agency bisa menolak aturan asosiasi? Bukankah untuk itu perlu peraturan formal?

A: Itu bisa. Kalau assosiasi tidak tegas. Semua harus ada aturan. Tapi, menolak itu harus ada alasan. Analoginya seperti SIM (Surat Izin Mengemudi). Kalau kau memang hanya punya SIM C itu berarti kau hanya bisa naik motor; terus kau juga ingin pakai mobil tapi hanya dengan SIM C, boleh? Enggak boleh! Terus kau ingin juga punya SIM B, bolehkah punya 2 SIM? Itu kan analoginya. Itu tergantung energinya. Kita anggap P3I sudah habis lah, sudah selesai. Sampai di satu titik kalau tidak ada kongres P3I maka P3I selesai.

 

Artikel terkait: Wawancara Khusus Ariyanto Zainal
Wawancara Eksklusif dengan Bimo Setiawan
Quo Vadis Industri Periklanan Indonesia
Suramnya Perusahaan Periklanan Indonesia