“Menerbitkan BOLA menjadi Harian Olah Raga adalah sebuah tantangan terbesar bagi SHM. Sebelumnya, sudah banyak yang menanyakan ‘Kapan BOLA jadi harian?’, dan itu berlangsung dari tahun ke tahun,” demikian secuplik pernyataan Pemimpin Redaksi BOLA, Bung Arief Kurniawan menjelang kelahiran Harian BOLA ketika itu.
Seperti diketahui, sejak awal tahun 2000-an, memang belum ada media olahraga yang terbit harian. Saingan terberat BOLA kala itu praktis hanya Tabloid GO. Namun Sejak 2005 konstelasi persaingan media olahraga berubah. Top Skor hadir sebagai media olahraga dalam bentuk harian dan ternyata mampu bersaing merebut ceruk pasar. Kesuksesan Top Skor ini kemudian diikuti Tabloid Go yang bertransformasi menjadi Go Sport. Lantas sempat terbit pula harian Pro Gol (2009), yang mencuri perhatian berkat ukuran kertasnya yang mini. Di saat para kompetitor satu per satu berguguran, Top Skor tampak semakin menancapkan kukunya. Dengan harga jual yang tidak bisa dibilang murah (Rp.3.500), Top Skor tetap laku keras di pasaran. Mereka bahkan mengklaim memiliki 1 juta pembaca per hari dijaman itu.

Sayangnya, Bola harian tidak membawa Bola menjadi media yang semakin disegani . Tampilan halaman muka (cover) menurut para agen relatif sangat kaku, mungkin karena disesuaikan dengan sifat berita yang dituntut menampilkan aktualitas atau kekinian. Dari hari ke hari, layout Harian BOLA memang terus disempurnakan. Bukan cuma pada cover melainkan juga isi di dalamnya. Sejumlah pengamat bisnis media berpendapat, jika memang ingin terbit harian, BOLA seharusnya memanfaatkan momentum saat pasar media olahraga tumbuh dan berkembang pasca lahirnya Top Skor, bukan justru menunggu sekian lama. Keputusan BOLA untuk berhadapan head to head dengan Top Skor dinilai sudah kehilangan momentum, sebab Top Skor sudah lebih established sebagai media olahraga harian.
Semuanya akhirnya tampak serba sulit, sehingga setelah 2,5 tahun mencoba peruntungannya, Harian Bola akhirnya menyerah. Bola yang sejak awalnya memang muncul sebagai mingguan ini menyatakan edisi 31 Oktober 2015 adalah BOLA Harian yang terakhir. Selanjutnya, BOLA kembali hanya akan menerbitkan mingguan yang diberi nama ‘Bola Sabtu’. Tabloid ini akan diluncurkan Sabtu, 7 November 2015. Apakah manajemen BOLA salah dalam membaca momentum dalam persaingan bisnis?




























