Media Cetak:
Menguak Kekuatan Bertahan Tabloid Legendaris BOLA

0
2562

Untuk media sekelas dan setangguh BOLA, jika hendak terus bertahan setidaknya masih akan menghadapi tiga masalah pokok  yang perlu dicermati, yaitu:

Pertama, semakin beratnya persaingan antar kategori media di tengah-tengah penetrasi teknologi digital yang menyuburkan akses mudah pencarian berita dan informasi.  Saingan bagi media cetak olahraga  bukan hanya dari media daring saja, tetapi juga datang dari social media yang mengalirkan berita dan informasi dengan sangat deras ke gawai yang kita pegang. Kalau misalnya media olahraga mainstream mencoba menghadirkan analisis berita atau berita yang lebih in-depth demi mempertahankan ‘sisa’ pembaca yang masih ada, tetap saja  kemampuan mereka untuk bertahan masih sangat sulit,  sebab jumlah iklan yang dipasang oleh pemilik brand di ragam media olahraga terus menurun.  Alasan pengiklan sangat sederhana: jumlah pembaca yang terus menurun.

Paragaraf diatas dikuatkan oleh pernyataan beberapa agen, sub agen dan pengecer yang kami jumpai. Setidaknya dari pernyataan mereka secara keseluruhan bisa disimpulkan bahwa media digital, online, media daring, sosmed dan lain sebagainya adalah sekumpulan kecanggihan teknologi yang sangat ‘melumpuhkan’ eksistensi media cetak.

Salah satu agen di lapangan Banteng, Jakarta Pusat yang kami jumpai menyebutkan bahwa  mereka pernah mengalami serapan hingga 5000-10,000 eksemplar  setiap terbitnya lantaran banyaknya permintaan dari sub agen, pengecer hingga asongan.

“pernah itu jaman 90an hingga awal 2000an kita ‘nyebar’ 5,000 hingga 10,000 eksemplar sekali penerbitan, malah kadang kita sampai minta nambah ke penerbitnya. Sekarang, kita jual 50an saja untuk kita sekelas agen, itu serapannya sudah nggak ada. Dari 5,000 jadi 50 eksemplar per edisi itukan jomplang sekali. Jadi, kalau sekarang kita itu sifatnya menunggu, dalam artian, kalau memang penerbitnya sudah nggak kuat lagi bertahan untuk meneruskan bisnis media cetaknya, ya itu berarti kita sebagai agennya juga mau nggak mau ikutan selesai bisnisnya. Karena bisnis kita tergantung dari bagaimana penerbitnya kan,” kata pemilik agen itu kepada kami ketika berkisah masa-masa keemasan tabloid Bola.

Sikin, agensi yang terletak di Cililitan juga mengatakan hal yang sama.  Dia sempat merasakan peredaran Tabloid Bola hingga 3,000 eksemplar. Demikian juga Fadhil mengungkapkan hal senada. Serapan tabloid BOLA pada masa itu mencapai ribuan eksemplar.

“Dulu itu kita jual BOLA mah kayak jual kacang goreng laris manis, kita tinggal duduk-duduk aja pengecer terus datang meminta tambah kuota. Dulu saya sempet jual bola sampai 2000-3000an eksemplar sekarang mah ambilnya berdasarkan pelanggan aja kalo gak ada yang minta ya gak kita ambil. Kalau Top Skor kita ambil 20-30an eksemplar aja itu gak pernah habis selalu sisa, begitu juga Super Ball, sama lah, nggak jauh beda sama Top Skor,” kata Sikin.

Kedua, persaingan Bola dengan rival terberat yaitu Top Skor masih terus berlangsung. BOLA memang memiliki sejarah panjang lebih dari tiga dekade. Tapi, dalam urusan terbit harian, Top Skor jelas lebih unggul sebab mereka sudah membuka jalan sejak sepuluh tahun lalu. Jejak dua kali seminggu BOLA bertarung dengan jejak harian Top Skor. Jadi, disamping adanya persaingan dengan media-media online, BOLA masih menghadapi jejak harian Top Skor yang tampil lebih konsisten dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Keputusan BOLA menerbitkan harian memang dinilai sungguh terlambat. Momentum adalah hal penting dalam keberhasilan atau kegagalan.

Ketiga, BOLA menghadapi juga persaingan tidak langsung dengan salah satu media yang datng dari internal Kompas Gramedia Group. Sudah harus meladeni Top Skor, Harian BOLA juga ditantang ‘saudara’ sendiri yakni Super Ball dari Tribunnews Group.  Sejatinya memang format terbaik untuk BOLA adalah tabloid yang terbit dua kali dalam seminggu. Terbukti dalam format seperti inilah BOLA mencapai puncak kejayaannya sepanjang 13 tahun (1997-2010).

Akankah BOLA, sang pelopor dan pemimpin media cetak Olahraga yang sudah sangat melegenda ini bisa bertahan? Akankah BOLA akan segera mengubah model usahanya sehingga BOLA, yang sejatinya sudah menjadi salah satu brand terkemuka bisnis media olahraga, bisa bertahan? Mari kita tunggu.


– Survey Nielsen“In-Program Ads” Menjadi Daya Tarik Kuat Bagi Industri Media & Periklanan
– Editorial: Awan Kelabu Ekosistim Industri Advertising Tanah Air
– Tren Podcast Mulai Tumbuh: Sosmed Bisa Ditinggalkan dan Era “Suara” Akan Hadir