Catatan Hari Pers Nasional:
Idealisme Pers dan Tantangan Berat Usaha Penerbitan Media

0
1948


ADVERTISING-INDONESIA.id – Tampaknya semakin sulit mengharap-harap pemasang iklan untuk terus memillih media cetak sebagai salah satu media promosi, kenyataannya belanja iklan di media cetak terus menurun.  Bukankah Nielsen mengatakan bahwa setiap tahun belanja iklan secara nasional termasuk media cetak selalu bertumbuh? Adakah yang salah dengan data ini? Jika bertumbuh, mengapa banyak media cetak yang gulung tikar?

Pada saat hari Pers Nasional 2018, terbersit harapan yang tinggi di hati dan pikiran setiap insan pers terhadap eksistensi usaha media yang mereka tekuni.  Banyak perusahaan penerbitan media yang mencoba bertahan dengan segala daya upaya sementara bayang-bayang kegagalan usaha terus menekan.  Pendapatan iklan yang semakin mengecil sementara biaya operasi yang cenderung tetap bahkan naik telah membuat banyak perusahaan penerbitan media memutar otak mencari cara terbaik untuk bertahan.

Harapan kepada usaha penerbitan media agar tetap bertahan sebagai sumber informasi yang terpercaya adalah ironi di tengah kondisi keuangan seperti arus kas yang semakin tersendat-sendat dan keuntungan bersih yang semakin tipis bahkan merugi.  Keterbukaan keuangan jelas bukan sesuatu yang mudah dilakukan sebab hal ini menyangkut rugi laba perusahaan.  Alih-alih data keuangan yang terbuka, data dan informasi yang berkaitan dengan jumlah cetak saja masih sulit diperoleh.  Ajakan untuk melakukan audit sirkulasi atau audit tentang jumlah media yang dicetak dan terjual secara terbuka adalah ajakan sia-sia yang tidak pernah dituruti oleh perusahaan-perusahaan media cetak.

Mungkin ada satu dua perusahaan yang melakukan audit sirkulasi lewat lembaga independen, namun hasilnya tidak pernah dibuka kepada para pemangku kepentingan seperti biro iklan dan pengiklan. Alhasil, banyak pihak atau pemangku kepentingan yang menebak-nebak berapa sesungguhnya jumlah suatu media cetak yang benar-benar dicetak dan laku terjual.  Jika hanya mengandalkan media kit sudah jelas sangat tidak akurat sebab angka-angkanya tampak tidak berubah selama bertahun-tahun sementara fakta di lapangan menunjukkan hal yang sangat berbeda.  Pengakuan para agen penjual media cetak lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa jumlah media yang benar-benar terjual menurun dengan sangat tajam. Data readership yang dihasilkan lewat survey oleh lembaga sekelas Nielsen sebetulnya mampumenggambarkan bahwa sesungguhnya jumlah pembaca sudah lebih rendah dari jumlah angka sirkulasi yang dinyatakan oleh para penerbit sejumlah media cetak, termasuk media cetak ternama, suatu hal yang tidak masuk logika hubungan sirkulasi dengan readership.

Industri media cetak atau pers di Indonesia harus benar-benar dibenahi jika tidak ingin menghadapi kepunahan.  Alih usaha penerbitan ke digital juga tidak mudah untuk dilakukan sebab jumlah iklan yang selama ini dinikmati oleh media cetak tidak serta merta ikut pindah ketika media cetak beralih ke digital. Jangankan iklan, pembacanyapun belum tentu ikut pindah. Sejumlah media cetak majalah terkenal yang dikelola grup penerbitan besar dan sudah terbukti memiliki pembaca selama puluhan tahun sudah mengalami hal ini.

Sejumlah pengusaha penerbitan media masih mencoba untuk terus bertahan di tengah arus deras perubahan kepembacaan dan pengalihan belanja iklan.  Pengurangan terhadap berbagai hal seperti karyawan, jumlah cetak, area atau wilayah peredaran, biaya promosi, biaya-biaya operasional lainnya sudah dilakukan dengan sangat ketat.  Mereka berharap belanja iklan kembali normal atau setidaknya tidak turun lagi dari angka saat ini.  Hingga titik tertentu, pengurangan terus menerus atas sejumlah hal di atas diduga akan menjadi kontra produktif terhadap tujuan usaha.  Hal ini sudah dialami oleh berbagai penerbit media cetak yang memaksa mengurangi jurnalis atau penulis internal dan menggantinya dengan penulis eksternal atau outsource. Mutu tulisan akhirnya menurun dan pembaca dengan segera mengetahui dan merasakannya.