Catatan Hari Pers Nasional:
Idealisme Pers dan Tantangan Berat Usaha Penerbitan Media

0
1949

Idealisme Pers atau Bisnis

Kita percaya bahwa pengelola media cetak pasti ingin mempertahankan mutu penulisan, kepuasan pembaca dan idealisme pers.  Dalam bukunya yang berjudul The Elements of Journalism, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel mengidentifikasi esensi prinsip dan praktek jurnalistik termasuk diantaranya adalah:  keberpihakan pers terhadap kebenaran, loyalitas kepada publik atau bukan kepada pemilik, kedisplinan atau ketekunan terhadap verifikasi, independensi terhadap setiap pihak yang sedang diberitakan, independen dalam memonitor pihak yang sedang berkuasa, bersedia membuka forum terhadap kritik dan kompromi yang diajukan publik,  isi berita harus komprehensif dan proporsional.

Jika pers diharapkan terus berdiri mempertahankan prinsip-prinsip di atas maka semua pihak yang berkepentingan seperti pengiklan, pembaca, bahkan pemerintah perlu mempertimbangkan partisipasi positif dan proporsional masing-masing agar media atau usaha penerbitan media bisa bertahan dengan baik.  Sangat tidak mungkin sebuah perusahaan mampu menghasilkan produk yang berkualitas jika tidak didukung oleh pendanaan yang cukup.  Para penulis perlu imbalan atau gaji yang memadai, kertas harus dibayar secara rutin, media harus disebarluaskan secara rutin agar mudah diperoleh, tim pengembangan penjualan dan promosi perlu dukungan data dan informasi yang valid.

Tampaknya semakin sulit mengharap-harap pemasang iklan untuk terus memillih media cetak sebagai media promosi, kenyataannya belanja iklan di media cetak terus menurun.  Bukankah Nielsen mengatakan bahwa setiap tahun belanja iklan secara nasional termasuk media cetak selalu bertumbuh? Adakah yang salah dengan data ini? Jika bertumbuh, mengapa banyak media cetak yang gulung tikar? Kita perlu mengkritisi data belanja iklan di media seperti yang diungkapkan Nielsen.  Apakah data tersebut menunjukkan belanja yang sesungguhnya atau hanya data belanja sebelum diskon atau potongan harga? Pernahkah kita mengetahui berapa sesungguhnya dana yang diterima perusahaan media setelah dipotong diskon? Masih cukupkah penerimaan tersebut menghidupi perusahaan?