Nasib Media Berita Konvensional Versi Digital

0
272


ADVERTISING-INDONESIA.id – Perpindahan dana belanja iklan dari media konvensional ke media digital terus terjadi hingga mengakibatkan runtuhnya hegemoni media konvensional yang sudah berlangsung puluhan tahun. Para pengelola media konvensional terpaksa melakukan perubahan dalam hal model usaha yang mereka jalankan. Sebagian besar sudah sejak lama melakukan pengembangan media baru dalam bentuk media digital.

Media konvensional besar seperti Kompas misalnya, sudah meluncurkan kompas.id sebagai bagian dari strategi integrasi bisnis sekaligus memperkuat eksistensi mereka di kancah industri media. Apakah pembaca setia Kompas cetak akan berpindah ke kompas.id? kita masih harus menunggu atau bersabar melihat terjadinya hal tersebut. Jika dihitung secara sederhana, jumlah minimal pembaca setia Kompas cetak yang secara reguler membaca harian ini adalah sejumlah koran yang benar-benar terjual setiap hari, saat ini mungkin kurang lebih 400 ribu copy yang terjual per hari (berdasarkan media kit). Mereka ini jugalah yang diharapkan akan melakukan migrasi ke kompas.id sebab secara emosional dan rasional mereka adalah bagian dari eksistensi Kompas cetak selama bertahun-tahun lamanya, sehingga dengan demikian mereka akan berusaha masuk ke media digital kompas.id bahkan mungkin akan meregistrasi diri mereka secara berbayar. Jika demikian halnya, maka rombongan pengunjung potensial reguler kompas.id adalah sekitar 400 ribu visitor. Jika setiap pengunjung mengunjungi rata-rata 4 halaman per sekali kunjungan, maka kompas.id akan memiliki sekitar 1,2 juta pageview potensial dalam satu kali kunjungan. Jika rata-rata pengunjung melakukan 3 kali kunjungan per hari maka jumlah total pageview per hari menjadi sekitar 4,8 juta pageview. Itu baru hitung-hitungan berdasarkan asumsi migrasi pembaca loyal Kompas cetak ke kompas.id sebagai versi digital atau media digital yang berada di bawah asuhan Kompas cetak.

Perpindahan belanja iklan dari media konvensional ke media digital ternyata tidak seindah yang diharapkan, sekalipun media digital tersebut mengusung nama dan pencitraan yang sama dengan media asalnya.

Persoalan yang sering dihadapi oleh media-media berita digital dewasa ini adalah kurangnya pasokan pendapatan melalui iklan sehingga eksistensi mereka masih dalam bayang-bayang gelap atau suram. Perpindahan belanja iklan dari media konvensional ke media digital ternyata tidak seindah yang diharapkan, sekalipun media digital tersebut mengusung nama dan pencitraan yang sama dengan media asalnya. Pengiklan tidak serta merta bersedia membayar harga pemasangan iklan di media konvensional versi digital senilai yang mereka bayarkan saat beriklan di versi konvensional. Bahkan, sudah terbukti harga yang dibayarkan sangat jauh berbeda alias masih lebih murah. Media-media digital mapan yang sebelumnya tidak berangkat dari versi konvensional seperti detik.com dikenal cukup agresif dalam menawarkan ragam jenis dan penempatan iklan yang oleh sebagian audiens dinilai sangat mengganggu keyamanan membaca. Namun dalam banyak kesempatan audiens menerimanya dengan lapang dada, demi mendapatkan suguhan berita dan informasi yang mungkin sementara ini masih dianggap paling cepat, tentu dengan akurasi yang masih terbuka untuk diperdebatkan.

Bagaimana dengan media digital yang di masa-masa sebelumnya dikenal begitu konvensional atau berasal dari media yang secara tradisional sudah dianggap memiliki kemapanan image dan persepsi yang kuat baik dalam hal konten dan penempatan iklan? Apakah mereka cukup berani ‘mengganggu’ kenyamanan pembaca digital mereka dengan iklan-iklan besar yang menutup-nutupi halaman, atau iklan yang dengan sengaja muncul sebelum seluruh isi terbuka dengan jelas?

Bagi media konvensional versi digital, ada baiknya memantapkan diri terlebih dahulu dalam hal penguasaan audiens baik secara jumlah maupun kualitas konsumsi, barulah kemudian secara perlahan memainkan instrumen iklan tanpa harus merusak kenyamanan membaca. Nasib media digital dewasa ini benar-benar sangat ditentukan oleh pemasukan iklan. Mengorbankan halaman demi halaman yang seolah dikuasai iklan juga bukan suatu jaminan, sebab pada akhirnya, audiens akan merasa bahwa hal tersebut sangat mengganggu. Ujung-ujungnya, impression quality akan menurun, hingga engagement level yang tidak kunjung naik. Jika demikian halnya, maka nasib media konvensional versi digital tidak akan seindah pendahulunya, alih-alih malah tenggelam di tengah hiruk pikuk pasar media.


– Jalan Terjal Bisnis Media
– Media Digital: Kritikan Terhadap Model Cost Per Click
– Kualitas Konsumsi Iklan di Media Digital
– Perencanaan Media Berbasis Data

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here