Quo Vadis Industri Periklanan Indonesia

5
1515

ADVERTISING-INDONESIA.id – Masa keemasan Full Service Agency telah berlalu. Dalam satu dekade terakhir Creative Specialist dan Media buying and planning Specialist mengambil alih peranan mereka dengan sangat signifikan. Berbagai biro-biro iklan Nasional ternama berbasis full service tidak kuasa menahan perubahan model bisnis industri periklanan bahkan banyak yang terpaksa harus membubarkan diri karena tingginya biaya operasi yang tidak lagi bisa ditutupi oleh semakin rendahnya operating revenue.


Sejarah dan perkembangan perusahaan periklanan atau biro iklan tidak lepas dari jasa para jagoan kreatif yang menggulirkan ribuan gagasan dan eksekusi iklan yang brilian. Mereka dikenal piawai dalam menciptakan pengenalan brand, membangun preferensi konsumen, mendorong konsumsi hingga mempertahankan loyalitas brand.

Diantara ratusan nama-nama hebat tersebut sebagian dari mereka dikenal dengan sangat luas seperti Batten, Barton, Durstine & Osborn (BBDO), James Walter Thompson (JWT), Leo Burnett (LB), Ted Bates, David Ogilvy, Doyle Dale Bernbach (DDB), McCann. Bisnis periklananpun diakui sebagai bagian utama dari berkembangnya bisnis di era kapitalis sejak pertengahan abad 19.

1
2
3
4
5
SHARE
Next articleEfektifitas Media Luar Rumah

5 COMMENTS

  1. Pertama saya mengucapkan Selamat atas terbitnya Advertising Indonesia dalam multi platform. Semoga AI dapat dimanfaatkan oleh pelaku industri pemasaran sebagai salah satu sarana meningkatkan kapabilitas dan kompetensi pemasaran. Dalam era MEA Indonesia akan diserbu oleh tenaga profesional dari luar negeri, sehingga anak negeri juga harus dapat meningkatkan daya saing personal dalam persaingan tersebut.
    Saya membaca dua artikel AI dalam edisi perdana ini. Tanggapan saya: Headline cukup provokatif, namun saya sarankan dalam artikel berikutnya konten juga menyajikan tambahan analisa dan rekomendasi. Dalam artikel Beriklan Bijak agar dapat diberikan data sahih atas klaim efektifitas. Measure efektifitas agar bukan kualitatif misalnya: “terbukti makin banyak supermarket yang menjual brand ini..”. Sebagaimana dalam pemasaran, makin banyaknya toko yang menjual tidakndapat di klaim 100% sebagai efektifitas iklan karena distribusi sebagiannya adalah merupakan peran bagian penjualan dan supply chain perusahaan.

    Input di atas tidak mengurangi kegembiraan saya akan terbitnya AI. Semoga input saya dapat menjadikan AI edisi-edisi berikutnya lebih tajam, sehingga menjadi pilihan pertama pelaku pemasaran secara luas.

    SELAMAT. Saya dukung untuk Sukses.

    Iriana E Muazd
    Pemerhati Pemasaran

  2. Terimakasih Ibu Iriana Ekasari Muazd atas komentar yang diberikan kepada Advertising Indonesia. Tentu saja kami dengan senang hati menampung saran dan aspirasi Ibu. Masukan ini akan kami pertimbangkan untuk dimuat pada Advertising Indonesia edisi berikutnya.