Quo Vadis Industri Periklanan Indonesia

5
2615

Dalam perjalanannya sangat disayangkan ketika global-global agency ini juga melirik dan menawarkan jasa mereka ke brand-brand besar nasional yang nota bene selama ini sudah menjalin hubungan yang akrab dengan biro iklan layanan penuh Nasional.

Pada awalnya penawaran-penawaran mereka masih dinilai aman atau tidak akan mengganggu eksistensi perusahaan periklanan nasional. Namun situasinya mulai berubah ketika client utama sejumlah biro iklan nasional perlahan-lahan memindahkan pemasangan iklan mereka lewat media specialist agency multinasional. Demi alasan efisiensi, brand-brand tersebut mulai menimbang penggunaan media-media specialist yang menawarkan layanan media planning dan buying dengan fee yang lebih kompetitif.

Banyak pihak menilai bahwa hal ini melanggar etika persaingan bisnis dan nyata-nyata akan menggerus pendapatan biro iklan layanan penuh. Mengingat media planning dan buying fee adalah sumber utama pendapatan hampir seluruh biro iklan layanan penuh maka pindahnya layanan media ke media specialist agency telah menurunkan operating profit biro iklan nasional hingga ke titik terendah. Kerugian demi kerugian akhirnya tidak terelakkan.

Persaingan Bebas

Perebutan dan perpindahan client menjadi sesuatu yang lumrah bahkan bisa terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Sejumlah perusahaan periklanan nasional merasa bahwa client mereka dicaplok begitu saja dan jasa mereka selama bertahun-tahun dalam membangun brand tidak lagi dihargai semestinya. Layanan full service yang selama ini menjadi basis kerjasama dengan client memudar perlahan-lahan. Sejumlah pihak menengarai bahwa hal ini sangat tidak fair dan merusak tatanan industri periklanan nasional yang sudah terbentuk sekian lama.

Situasi ini diperparah dengan semakin banyaknya media buying specialist lokal yang sayangnya juga menawarkan agency service fee yang mulai tidak masuk akal. Setiap kesempatan sepertinya akan menimbulkan kesempatan yang baru.

Akhirnya, demi mempertahankan eksistensi mereka perusahaan-perusahaan periklanan nasional non afiliasi mulai menurunkan agency service fee layanan media mereka hingga ke tingkat yang sangat rendah. Etika persaingan yang sudah berusaha dijaga dengan baik tampak terabaikan. PPPI sebagai organisasi resmi industri periklanan Indonesia sepertinya kurang berdaya dalam mengingatkan anggotanya untuk tidak saling menjatuhkan harga layanan media.

1
2
3
4
5
SHARE
Next articleEfektifitas Media Luar Rumah

5 COMMENTS

  1. Pertama saya mengucapkan Selamat atas terbitnya Advertising Indonesia dalam multi platform. Semoga AI dapat dimanfaatkan oleh pelaku industri pemasaran sebagai salah satu sarana meningkatkan kapabilitas dan kompetensi pemasaran. Dalam era MEA Indonesia akan diserbu oleh tenaga profesional dari luar negeri, sehingga anak negeri juga harus dapat meningkatkan daya saing personal dalam persaingan tersebut.
    Saya membaca dua artikel AI dalam edisi perdana ini. Tanggapan saya: Headline cukup provokatif, namun saya sarankan dalam artikel berikutnya konten juga menyajikan tambahan analisa dan rekomendasi. Dalam artikel Beriklan Bijak agar dapat diberikan data sahih atas klaim efektifitas. Measure efektifitas agar bukan kualitatif misalnya: “terbukti makin banyak supermarket yang menjual brand ini..”. Sebagaimana dalam pemasaran, makin banyaknya toko yang menjual tidakndapat di klaim 100% sebagai efektifitas iklan karena distribusi sebagiannya adalah merupakan peran bagian penjualan dan supply chain perusahaan.

    Input di atas tidak mengurangi kegembiraan saya akan terbitnya AI. Semoga input saya dapat menjadikan AI edisi-edisi berikutnya lebih tajam, sehingga menjadi pilihan pertama pelaku pemasaran secara luas.

    SELAMAT. Saya dukung untuk Sukses.

    Iriana E Muazd
    Pemerhati Pemasaran

  2. Terimakasih Ibu Iriana Ekasari Muazd atas komentar yang diberikan kepada Advertising Indonesia. Tentu saja kami dengan senang hati menampung saran dan aspirasi Ibu. Masukan ini akan kami pertimbangkan untuk dimuat pada Advertising Indonesia edisi berikutnya.