Selepas krisis ekonomi nasional tahun 1997 industri periklanan Indonesia seolah dihadapkan de-ngan situasi sulit yang tidak pernah selesai. Serbuan perusahaan media specialist multinasional mengubah dengan cepat ekosistim industri periklanan Indonesia. Secara perlahan perusahaan periklanan nasional menghadapi hal-hal berikut ini: maraknya perpindahan pengelolaan media services, menurunnya Agency fee on Media Planning and Buying, semakin banyaknya perusahaan spesialis-spesialis media dan kreatif, eksodus para praktisi unggul, posisi tawar yang semakin melemah, modal atau ekuitas yang terbatas dan laba operasi yang semakin menurun. Semua hal tersebut terjadi dengan cepat hanya dalam rentang waktu satu dekade dan memperburuk situasi yang dihadapi oleh full service advertising agency nasional. Satu persatu klien utama menanggalkan hubungan yang bersifat full service dan klien-klien utama lebih memilih perusahaan multinasional sebagai konsultan media periklanan mereka. Efisiensi besar-besaran yang dilakukan perusahaan periklanan Indonesia tidak cukup menolong hingga akhirnya satu persatu raksasa-raksasa nasional itupun tenggelam secara perlahan.
Bertarung Dengan Sehat
Para pemilik perusahaan periklanan Indonesia sangat sadar bahwa perubahan pasar harus disikapi dengan bijak. Semakin dominannya perusahaan multinasional dan perkembangan pesat media-media digital mendorong perusahaan periklanan nasional full service menata ulang model bisnis mereka dengan cepat. Setiap pengelola perusahaan dituntut meninggalkan zona nyaman mereka dan berpacu mengembangkan ragam kreatifitas atau gagasan baru dalam berkomunikasi.
Upaya untuk bertahan apalagi untuk berkembang atau bertumbuh memang tidak mudah, sebab cengkeraman perusahaan multinasional yang menguasai pasar global cenderung menguat. Pada tataran global sebetulnya juga banyak biro iklan layanan penuh kelas dunia termasuk biro iklan legendaris terpaksa atau merelakan diri untuk melakukan pengetatan atau pemisahan unit bisnis bahkan menutup kantor cabang mereka di banyak negara sebagai dampak dari semakin maraknya specialist agency. Penggunaan full service agency yang secara bisnis sangat menguntungkan raksasa biro iklan dunia sudah bukan pilihan. Pengiklan global mulai memilih global media specialist untuk mengelola aktifitas media mereka.




























