Sejumlah peritel modern bahkan menutup usahanya atau gerai mereka karena pendapatan operasional mereka terus menurun hingga usaha mereka semakin tergulung dan bangkrut. Instrumen terbaik untuk bertumbuh dan berkompetisi adalah beroperasi secara digital, dan sayangnya sebagian pemilik gerai ritel sudah terlambat melakukannya. Keterlambatan dalam mengantisipasi perubahan pelanggan, mengelola kesempatan digital, serta kegagalan dalam mentransformasi pola bisnis menjadi malapetaka besar.
Retail TouchPoints mengungkapkan bahwa 86% pelanggan percaya bahwa personalization atau kesesuaian antara produk atau jasa dengan kebutuhan mereka ternyata sangat mempengaruhi keputusan belanja yang mereka lakukan. Hal ini berarti bahwa customization atau pengambilan keputusan pemasaran berdasarkan kumpulan data pelanggan sudah menjadi krusial.
Di era digital, para pelanggan milenial semakin terbiasa dan leluasa mengakses internet dan mencari barang yang mereka butuhkan tanpa terhalang waktu dan biaya pencarian yang mereka keluarkanpun sangat efisien.
Koneksi terhadap media sosial yang semakin mudah atau lancar menyebabkan arus informasi yang semakin terbuka termasuk kemudahan dalam menerima dan membagikan informasi produk, baik barang maupun jasa.
Tantangan utama bagi para tim pemasaran dewasa ini adalah menyiapkan produk, jasa dan layanan pelanggan yang bersifat “contextual commerce” atau proses produksi yang dilakukan dengan terlebih dahulu mengumpulkan dan mengawasi ketat keinginan pelanggan serta perilaku digital mereka. Kemudian dilanjutkan dengan menciptakan solusi atau penyelesaian yang cepat agar para pedagang atau penjual ditingkat retail bisa segera mengirimkan atau menawarkan kebutuhan tersebut pada skala yang disebut lebih personal dan bermakna. Sejumlah pemilik brand global bahkan telah membangun proses komunikasi hingga penjualan yang sangat personalized, dengan cara memahami customer journey pelanggan mereka dengan sangat rinci. Mereka bahkan menciptakan merchant digital untuk barang dan jasa mereka sendiri.
Sementara itu, menurut Criteo’s quarterly Mobile Commerce Report, 40% dari seluruh transaksi komersial global di tahun 2016 dilakukan melalui perangkat mobile. Hal ini menunjukkan bahwa pelanggan atau pembeli semakin terbiasa melakukan aktifitas belanja melalui perangkat-perangkat digital bergerak sekaligus menyiratkan bahwa pelanggan tampak melakukannya sekaligus saat melakukan pekerjaan lain (multi tasking). Kita melihat seberapa besar peluang efisiensi yang terjadi ketika sejumlah pekerjaan bisa dilakukan pada saat yang bersamaan, termasuk berbelanja.
Satu hal lagi bahwa menurut Sprout Social, 75% pelanggan melakukan keputusan pembelian terhadap suatu produk karena mereka melihatnya di media-media sosial. Koneksi terhadap media sosial yang semakin mudah atau lancar menyebabkan arus informasi yang semakin terbuka termasuk kemudahan dalam menerima dan membagikan informasi produk, baik barang maupun jasa. Sebagai contoh, kita melihat bagaimana jasa penjualan kamar hotel semakin membuncah dan menawarkan harga yang sangat kompetitif hingga para calon pembeli dalam sekejap sudah menemukan hotel yang diinginkan dengan harga dan bonus pembelian yang sangat menakjubkan.
![]()
– Crowdsourcing – Strategi Menggali Persepsi Publik Terhadap Merek
– Iklan: Nasib Iklan Konvensional
– Creative Thinking Pekerja Kreatif
– Metode Penentuan Budget Iklan





























